Putus Setelah 10 Tahun Pacaran – Berdasarkan Kisah Nyata

Artikel unik – Putus setelah 10 tahun pacaran itu rasanya seperti sedang membangun rumah dan tiba-tiba kena gempa bumi, lalu rumahnya rubuh rata dengan tanah. Ga enak banget pasti ya rasanya. Bisa kebayang juga sama kamu mungkin, putus setelah 10 tahun pacaran itu rasanya pasti sakit sekali.

Tapi… yah… hal ini memang benar dan sering terjadi. Setelah berlama-lama membina suatu hubungan, niat serius akhirnya pun pupus. Ibarat kata orang bijak yang harum semerbak, kalau bukan jodoh, mau dipaksakan bagaimana pun pasti akan selalu ada saja jalannya untuk berpisah. Namun, sebaliknya, jika memang sudah berjodoh, mau dipisahkan seperti apapun pasti tetap saja ada jalannya untuk kembali bersatu.

Lama-lama pacaran ujungnya cuma buat jagain dan ngerawatin jodohnya orang lain :p
Kalimat inipun yang pastinya akan selalu keluar ketika akhirnya putus setelah 10 tahun pacaran. Tapi bagi kamu yang mungkin sedang mengalaminya, atau yang sudah pernah mengalaminya. Hal seperti ini pasti akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk hidup mu.

Lihat juga: Hidup Itu Ibarat Roda Yang Berputar



Berdasarkan kisah nyata, perjalanan kisah asmara yang akhirnya harus putus setelah 10 tahun pacaran itupun ternyata aku alami juga. Aku bukanlah tipe laki-laki sempurna. Jika boleh dibilang, memang diriku itu termasuk kategori cowo pendek. Aku lahir didalam lingkungan keluarga yang sederhana, bukan dari keluarga yang berkelimpahan. Lalu kemudian di tahun 2008, aku bertemu dengan seorang wanita yang memikat hatiku. Yang kemudian kami sepakat untuk menjalin sebuah hubungan khusus lebih dari sekedar teman biasa pada tanggal 13 Febuari 2008.

Dia, kekasih hati ku, adalah anak perempuan yang baik hati. Waktu demi waktu kami lewati berdua. Canda, tawa hingga isak tangis pun mewarnai perjalanan kisah kami. Pro kontra tentang hubungan kami pun bukannya tidak ada. Banyak masalah timbul. Namun kami selalu percaya kepada satu sama lain dan terus berjuang untuk mempertahankan. Hingga pada akhirnya kedua pihak keluaga kami pun telah setuju dengan hubungan tersebut.

Kita berdua menjalani hubungan yang semakin serius dari hari ke hari. Komitmen, sebuah hal yang terus terngiang di telinga ku. Kami berkomitmen untuk selalu menjaga dan menyayangi. Susah senang selalu bersama, dan itulah memang yang kami lakukan dan usahakan selalu sampai 6 tahun lamanya perjalanan tersebut. Bak cerita dalam dongeng, aku merasa sangat beruntung bisa menemukan sandaran hati yang mau selalu setia menemani perjalanan hidup ku.

Sampai pada suatu ketika, di penghujung tahun 2013 datang penawaran pekerjaan yang mengharuskan kami untuk pergi jauh menyebrangi lautan. Dari Jakarta, Indonesia, kami berpindah ke Manila, Filipina. Semua terasa begitu indah pada mulanya. Seperti mendapatkan sebuah kejutan terindah sepanjang hidup ku. Bisa memulai sebuah karir di luar tanah kelahiran ku, berdua dengan orang yang paling aku sayang juga pada kala itu.

Bulan demi bulan berlalu, kehangatan dan kebersamaan kami aku rasakan berangsur-angsur memudar. Mengapa?, entahlah. Hanya itu jawaban ku bilamana kerabat ku bertanya hingga saat ini. Mungkin kesibukan pekerjaan, juga ruang lingkup pergaulan. Tapi aku pun tidak mau mencari alasan untuk hal tersebut dan lebih memilih untuk meyakinkan hati ku untuk tetap memperjuangkan hubungan ini.

Mulai dari penghujung tahun 2015, aku pun mulai merasakan jarak yang semakin jauh walaupun secara fisik kami berdekatan. Aku seperti tak mengenal lagi sosok orang yang aku sayangi itu, yang padahal jelas ada dihadapanku dan tangannya dalam genggaman ku. Asing, perasaan ini yang kerap muncul dalam perjalanan kami semenjak itu. Masalah dan perbedaan pendapat sepele, selalu menjadi perdebatan besar pada akhirnya. Tapi diriku, sudah memfokuskan hati dan pikiran ku untuk menjaga komitmen yang memang dari awal sudah kita sepakati bersama. Selalu ada alasan dari diri ku untuk tetap mempertahankan hubungan ini, walaupun aku tau, dan dia pun mengatakan, bahwa dirinya sudah tak berkeinginan untuk memperjuangkan hubungan ini kembali.

2016, akhirnya kami berdua memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Namun, diriku tidak kembali untuk jangka waktu yang lama kala itu karena aku mesti kembali terbang ke negara lain, Malaysia, demi pekerjaan ku kembali. Dari tahun 2016 hingga 2018, akhirnya kami kembali harus menjalani ujian lain dari sebuah hubungan. Long distance relationship (LDR). Tidak berdampak baik sepertinya untuk hubungan kami ini yang memang sudah mulai ada keretakan sejak 2014 silam. Tapi kembali lagi-lagi diri ku selalu saja masih berfikir untuk tetap berjuang, karena dialah yang aku inginkan. Tak ingin aku sia-siakan waktu perjalanan kami selama ini.

Aku selalu mencoba untuk berfikir positif, dan mencari alasan untuk tetap menjaga komitmen ku. Selalu akan ada alasan buat ku untuk memperjuangkan hubungan ini karena aku memang sayang. Tapi ternyata yang kulakukan semua itu berbanding terbalik dengan yang dirinya lakukan. Dia, selalu memiliki alasan untuk mendapatkan perpisahan dari ku. Dia pun mengatakan bahwa dirinya bukanlah yang dulu lagi. Dia sudah berbeda. Dia tidak menginginkan kehadiran ku kembali disisinya.

Dia mengatakan kepadaku, bahwa aku kerap mengatakan bila seolah beban hidup ku ini terlalu besar dan dia menjadi penambah beban dalam hidup ku. Aku hanya berfikir, aku bukan manusia yang sempurna. Dan aku pun minta maaf atas segala kekurangan ku. Tak pernah ada maksud jahat dan tak pernah aku inginkan untuk perpisahan, karena aku sendiri pun menikmati setiap tantangan hidup ini sewaktu bersamanya. Hidup tidak mungkin tanpa masalah. Jika tak menginginkan ada masalah sedikitpun, maka mungkin jangan hidup. Setidaknya itulah yang aku percayai hingga saat ini. Aku percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan berupa masalah melebihi dari kemampuan kita. Setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya, tergantung dari bagaimana kita menyingkapi permasalahan tersebut dan berusaha mencari solusinya.

Masalah hidup ku yang inipun sebenarnya bukan masalah yang besar, sepele malah mungkin jika dibandingkan oleh pengalaman hidup orang lain yang jauh lebih parah. Semua tergantung dari bagaimana kita melihat masalah kita, apakah kita masih mau memperjuangkannya, atau kita memilih untuk menyerah dan meninggalkan masalah itu tak terselesaikan.

Dan pada akhirnya, pada tahun 2018, kembali di bulan Febuari. Aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ku di luar Indonesia itu, dan kembali ke tanah air untuk bisa selalu bersamanya. Aku berpikir untuk bisa bekerjasama lagi berdua, berusaha, dan selalu dekat kembali. Dan berfikir untuk menyelesaikan masa pacaran kita serta melanjutkan ke tahap berikutnya secara sederhana. Setelah sekian lama tidak berjumpa, akhirnya aku dan dia kembali berjumpa. Ku utarakan semua keinginan ku, maksud dari kepulangan ku. Namun, seperti yang sudah dikatakan juga sebelumnya. Jika memang tidak berjodoh, maka akan selalu ada saja jalannya untuk berpisah. Ya akhirnya, putus setelah 10 tahun pacaran pun aku alami.

Putus Setelah 10 Tahun Pacaran

Sedih?, marah?, kecewa?. Jelaslah ini pasti akan berkecamuk, campur aduk dalam perasaan. Tapi kami pun sebenarnya saling mendoakan. Aku berdoa semoga dia menemukan kebahagiaannya dan terus maju dalam kehidupannya.

Banyak hal yang aku pelajari dari pengalaman hidup ini. Bukannya aku mau terus tenggelam di masa lalu, namun karena memang tidak mungkin untuk lepas atau melupakan masa lalu begitu saja. Tapi bukan masa lalu yang akan menjadi sorotan terus menerus. Seperti kata teman ku, anggap saja seperti kamu melihat kaca spion ketika berkendara. Kamu hanya perlu melihat kebelakang sebentar-sebentar saja, sebagai pedoman untuk melangkah terus ke depan.

Introspeksi diri, dekatkan diri kepada Tuhan, tetap berbakti kepada orang tua, dan tetaplah menjadi pribadi yang baik. Tetaplah bertumpu kepada pola pemikiran positif. Percayalah Tuhan tau yang terbaik untuk kita. Tuhan tau yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk kamu yang mungkin sedang atau pernah mengalaminya. Untuk kamu yang mungkin sedang bersedih, coba lihat lagi keluar, buka mata mu lebih jauh, masih banyak diluar sana yang mungkin kisahnya lebih menyakitkan daripada yang sedang kamu alami. Bersyukurlah senantiasa untuk apa yang telah kamu alami, masalah yang terlewati akan menjadikan dirimu semakin kuat. Untuk mu yang sedang bersedih, lihatlah keluar, langit masih biru dan matahari masih bersinar, tetaplah berjuang, jangan pernah menyerah.

Tidak akan ada pelangi yang indah, bila tidak ada hujan yang gelap sebelumnya.
Semua akan indah pada waktunya ­čÖé

Kalau kamu ?…

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: