Ternyata Ada Sejarah Unik Dibalik Nama Jalan di Jakarta

Pemberian nama jalan di Jakarta ternyata tidak dilakukan dengan sembarangan, karena ada beberapa sejarah unik yang terkandung di dalamnya. Sejarah tersebut juga berkaitan erat dengan budaya betawi yang memang merupakan budaya lokal di wilayah Jakarta. Bahkan sejarah tersebut sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu serta sudah menjadi identitas dari Jakarta sendiri. Namun sayangnya seiring dengan berjalannya waktu banyak orang sudah melupakan semua sejarah yang terjadi di ibukota negara kita tersebut. Untuk pengingat, ada baiknya kita simak lebih lanjut mengenai sejarah yang ada di balik nama beberapa jalan tersebut. Terlebih karena jalan tersebut ternyata memiliki sejarah yang cukup unik untuk diketahui.

Mampang Prapatan Sebagai Salah Satu Nama Jalan di Jakarta

Nama jalan ini sama seperti nama salah satu kelurahan serta kecamatan yang ada di bagian selatan ibukota Indonesia tersebut. Sebenarnya nama ini diambil dari kata-kata mampang yang merupakan bahasa betawi dari kata-kata terlihat jelas ataupun terpampang. Sementara itu kata berikutnya yaitu prapatan memiliki arti persimpangan 4 jalan. Jadi arti dari nama jalan ini adalah persimpangan tersebut sangat terlihat jelas oleh orang-orang yang melewati jalan tersebut. Baik itu pengendara kendaraan bermotor maupun para pejalan kaki.

Warung Buncit

Nama jalan di Jakarta yang unik ini ternyata juga memiliki sejarah yang unik pula dibaliknya. Dahulu ada sebuah warung di jalan tersebut yang memiliki nama unik yaitu bun tjit. Warung tersebut berada di sebuah perempatan di daerah duren tiga. Tepatnya di antara jl. Warung jati barat serta mapang prapatan. Dahulu daerah ini merupakan daerah pertanian sehingga sebelum warung tersebut terkenal, nama daerah tersebut adalah pulo kalibata. Namun karena warung tersebut makin lama semakin terkenal dan maju, maka orang-orang pun semakin mengenalnya. Karena itulah sekarang ketika menyebut daerah tersebut yang disebut adalah nama warung buncit tadi.

Jalan glodok

Nama jalan yang ada di Jakarta barat ini memang unik karena asal katanya sendiri sebenarnya adalah geroyok. Kata ini merupakan kata yang digunakan untuk menyebut bunyi yang dihasilkan oleh air jatuh setelah melalui pancuran air. Sejarah tempat tersebut di zaman dahulu ternyata mengungkapkan bahwa pernah ada sebuah waduk di daerah tersebut. Waduk tersebut digunakan sebagai tempat penampungan air yang mengalir dari sungai Ciliwung. Dan orang-orang sering menyebut tempat tersebut sebagai geroyok sesuai dengan bunyi air yang dihasilkan. Namun banyak orang Tionghoa yang juga berada di daerah tersebut tidak dapat menyebutkan kata geroyok. Karena itulah mereka menyebutnya sebagai kata glodok yang kemudian malah menjadi terkenal.



Baca juga: Hanya Hisap 1 Batang Sehari, Resiko Merokok Menjadi Lebih Kecil?

Senayan

Sebenarnya pada zaman dahulu daerah ini merupakan daerah yang dimiliki oleh seorang saudagar yang sangat kaya. Nama saudagar tersebut adalah Wangsanaya dan Ia berasal dari Bali. Karena itulah orang-orang di sekitar menyebut nama jalan di Jakarta tersebut dengan nama sang saudagar. Ini berarti tanah tersebut dimiliki oleh Wangsanaya. Namun semakin waktu berlalu, orang-orang akhirnya cuma menyebutkan akhiran kata tersebut untuk mempersingkatnya. Sehingga akhirnya daerah ini dikenal dengan nama senayan saja.

Jalan Kwitang

Salah satu jalan yang pada zaman dahulu juga dimiliki oleh perseorangan. Kali ini daerah jalan kwitang dahulu dimiliki oleh seorang tuan tanah. Tuan tanah tersebut bernama Kwik Tang Kiam. Karena itulah orang-orang betawi yang tinggal di sekitar daerah tersebut menyebut tanah tersebut sebagai kampung kwitang. Dan seiring waktu berlalu akhirnya daerah tersebut dikenal sebagai daerah kwitang seperti nama jalannya.

Jalan Menteng

Nama jalan ini memang sangat identik dengan nama buah menteng. Sesungguhnya karena pada zaman dahulu daerah tersebut adalah hutan, maka banyak sekali buah menteng yang tumbuh di sana. Kemudian hutan tersebut dibuka dan akhirnya menjadi sebuah perkampungan. Namun karena orang-orang masih mengingat banyaknya buah tersebut makan kampung tersebut menggunakan nama kampung menteng. Namun kemudian pada zaman pemerintahan Belanda, daerah tersebut dibeli. Kemudian pemerintah Belanda membangun perumahan untuk pegawainya di tahun 1912. Meskipun sudah bukan merupakan perkampungan lagi, namun daerah tersebut tetap menggunakan nama menteng.

Kebayoran

Daerah yang terletak di Jakarta selatan ini ternyata pada zaman dahulu digunakan untuk tempat menimbun kayu bayur. Karena kayu tersebut merupakan kayu yang sangat kokoh, maka orang banyak menggunakannya untuk membangun rumah. Namun karena itulah juga daerah tersebut disebut sebagai kebayuran, yang artinya tempat untuk menimbun kayu bayur. Seiring dengan berjalannya waktu nama jalan di Jakarta tersebut berubah penyebutannya menjadi kebayoran.

Lebak Bulus

Nama daerah ini, sebenarnya diambil dari dua buah kata. Yang pertama adalah kata lebak sendiri yang artinya merupakan lembah. Yang kedua adalah kata bulus sendiri yang artinya merupakan kura-kura. Karena itulah orang-orang sekitar sering menggabungkan kedua kata tersebut menjadi lebak bulus sebagai sebutan daerah tersebut. Alasan orang-orang menggunakan sebutan tersebut adalah karena pada zaman dulu ada sungai di daerah tersebut. Dan sungai itu juga dipenuhi oleh kura-kura atau bulus tersebut. Bahkan sebenarnya sampai sekarang sungai tersebut masih ada. Namun sayang sekali kura-kuranya sudah jarang ditemukan.

Jalan Kebagusan

Nama jalan ini sebenarnya diambil dari nama seorang gadis bernama Tubagus yang terkenal karena kecantikannya. Ia merupakan keturunan bangsawan dari kasultanan Banten. Karena kecantikannya yang teramat sangat, maka banyak sekali pemuda yang berkeinginan untuk meminangnya. Namun karena Tubagus tidak ingin mengecewakan semua pemuda yang datang tersebut. Akhirnya Ia justru memilih untuk bunuh diri yang membuat kisah tersebut berakhir dengan tragis. Anda bahkan masih dapat menjumpai makam Tubagus yang dikenal sebagai Ibu bagus. Karena itulah daerah ini akhirnya menggunakan nama kebagusan.

Ragunan

Sebenarnya asal kata ragunan merupakan nama seorang tuan tanah yang pertama kali menguasai daerah tersebut yaitu Wiraguna. Nama tersebut sebenarnya merupakan sebuah gelar yang dimiliki oleh Hendrik Cardeel. Ia mendapatkan gelar tersebut setelah dianugrahkan kepadanya oleh Sultan Banten. Nama sultan tersebut adalah Abunasar Qahar yang merupakan anak dari Sultan sebelumnya yaitu Ageng Tirtayasa. Seiring dengan berjalannya waktu, nama jalan di Jakarta tersebut berubah penyebutannya menjadi Ragunan.

Cawang

Sejarahnya pada zaman belanda ada seorang Melayu yang mengabdi pada pemerintahan belanda dan menjadi seorang letnan. Ia bernama Ende Awang yang memiliki banyak anak buah dan bermukim di daerah tersebut. Karena Ia sangat terkenal maka orang-orang menyebut daerah tersebut menggunakan nama si letnan. Seiring dengan berjalannya waktu, nama tersebut berubah penyebutannya menjadi cawang.

Demikianlah beberapa nama jalan di Jakarta yang ternyata memiliki sejarah yang sangat unik dibaliknya. Banyak nama yang ternyata berbeda penyebutannya dengan yang kita gunakan saat ini. Semua itu terjadi karena perubahan zaman serta kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Menarik juga ya mengetahui perubahan yang unik tersebut jika dibandingkan dengan zaman dahulu.

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: