Varian Delta Mutasi Sampai Punah, Seanjlok Apa Kasus COVID-19 di Jepang?

Jakarta

Gelombang kelima COVID-19 Jepang yang diamuk varian Delta mendadak lenyap. Hal ini memicu pertanyaan apa penyebab di balik infeksi kasus harian Jepang yang kini anjlok, menurun drastis.

Menurut peneliti setempat, varian Delta bermutasi hingga lenyap dengan sendirinya. Seanjlok apa sih sebenarnya kasus COVID-19 di Jepang?

Tiga bulan lalu diserang varian Delta, rekor harian COVID-19 Jepang sebenarnya sempat hampir menyentuh 26 ribu kasus. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, kasus Corona anjlok di bawah 200 kasus.

Ditambah lagi, Jepang mencatat nihil kematian COVID-19 per 7 November, pertama kali selama 15 bulan COVID-19 mewabah.

Sejak puncak pertengahan Agustus, kasus harian COVID-19 di Jepang terus menurun hingga di bawah 5.000 pada pertengahan September dan di bawah 200 pada akhir Oktober. Jepang dinilai menjadi salah satu tingkat infeksi terendah dari negara maju mana pun selama beberapa waktu.

Per 25 November, Jepang ‘hanya’ mencatat 77 kasus baru dan 1 kematian akibat COVID-19.

Teori di balik penyebab menurunnya kasus

Dikutip dari Japan Times, banyak ahli menunjukkan berbagai kemungkinan kasus COVID-19 anjlok, termasuk tingkat vaksinasi Jepang yang tertinggi di antara negara-negara maju lain yaitu 75,7 persen sudah menerima vaksinasi dosis kedua. Faktor lainnya adalah kedisiplinan menjaga jarak dan memakai masker yang memang tertanam kuat dalam masyarakat Jepang.

Tetapi alasan utama mungkin terkait dengan perubahan genetik yang dialami virus Corona selama reproduksi, dengan kecepatan sekitar dua mutasi per bulan. Menurut teori Ituro Inoue, seorang profesor di Institut Genetika Nasional, varian Delta di Jepang mengakumulasi terlalu banyak mutasi pada protein non-struktural yang mengoreksi kesalahan virus yang disebut nsp14.

Akibatnya, virus berjuang untuk memperbaiki kesalahan tepat waktu, yang pada akhirnya mengarah pada ‘penghancuran diri’ atau lenyap dengan sendirinya.


Terima kasih telah membaca artikel

Varian Delta Mutasi Sampai Punah, Seanjlok Apa Kasus COVID-19 di Jepang?