Sejumput Kisah Tentang Fachryansah Farandi (Vivo) dan Steve Saerang (Indosat)

Jakarta, – Persaingan terbuka membuat industri selular Indonesia terbilang kompetitif. Tak mudah untuk bertahan di tengah kompetisi yang terbilang ganas. Sudah banyak cerita perusahaan yang mundur dilibas persaingan.  Sebut saja Bolt, Esia, Coolpad, Sony, HTC, LG, Blackberry, Acer, Lenovo Motorola, dan banyak pemain lainnya.

Untuk bisa survive di tengah kompetisi yang super ketat, perusahaan harus terus berinovasi. Baik dari sisi teknologi, strategi pasar, produk, layanan dan sebagainya. Di sisi lain, perusahaan juga wajib beradaptasi dengan regulasi baru yang diterapkan oleh pemerintah. Karena perubahan regulasi tak jarang bisa mengubah medan persaingan.

Dipicu oleh pasar yang dinamis, pada dasarnya persaingan antar perusahaan adalah kompetisi memperebutkan sumber daya manusia (SDM) yang qualified. Dengan berkembangnya era digital, kualifikasi SDM juga berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyaknya kalangan kerja muda usia, maka leadership style juga harus berubah. Demi tetap bertumbuh, perusahaan kini bergerak seperti start-up.

Misalnya membangun organisasi dengan model kepemimpinan yang “tidak mengikat”, terus menjelajahi dan membuka potensi tim, membangun lingkungan kerja yang kolaboratif, memupuk budaya inovasi di tempat kerja, dan memberi mereka kesempatan untuk memimpin.

Dapat diyakini, perusahaan dengan SDM mumpuni dan memiliki kompetensi digital, akan mampu survive dan memenangkan pertarungan yang semakin sengit, baik saat ini maupun di masa datang.

Nah, di era kompetisi yang telah memasuki wilayah baru, yakni pertempuran smartphone, data dan konten berkat kehadiran internet cepat 4G LTE, sejumlah eksekutif yang merupakan talenta-talenta terbaik memutuskan untuk datang dan pergi. Siapa saja mereka?

Fachryansyah Farandi

Sejumput Kisah Tentang Fachryansah Farandi (Vivo) dan Steve Saerang (Indosat)

Pria yang terbilang akrab dengan para jurnalis ini memutuskan untuk paripurna sebagai Digital & PR Director  Vivo Mobile Indonesia (Vivo Smartphone) per Januari 2021. Keputusan tersebut mengakhiri karir yang telah ia bangun selama lima tahun di vendor smartphone terkemuka itu.

Sebelum menjalankan amanah sebagai Digital & PR Director, Fachryansyah atau yang akrab dipanggil Fachry, memulai posisi sebagai Digital Manager dan berlanjut menjadi General Manager for Digital Patnership  di perusahaan yang sama.

Dunia PR dan marketing sepertinya sudah menjadi passion dari pria yang pernah mengenyam pendidikan di LSPR dan Sekolah Tinggi Manajemen PPM. Sebelum bergabung dengan Vivo, Fachry pernah bekerja pada dua agensi periklanan, masing-masing sebagai copy writer di Gita Pertiwi dan Brand Communication Specialist di Pangeran Matahari.

Keputusan Fachry meninggalkan Vivo terbilang mengejutkan. Pasalnya, meski jarang diekspos oleh media, ia adalah salah satu sosok kunci perusahaan smartphone yang berbasis di Shenzhen itu.

Bersama tim yang dibangunnya, Fachry membuat kinerja Vivo terkerek naik. Tak tanggung-tanggung, hanya dalam tempo lima tahun, posisi Vivo kini sudah jadi nomor satu di Indonesia, mengalahkan pemain yang sudah kelotokan, yaitu Samsung. Padahal chaebol Korea Selatan itu sudah menjadi penguasa pasar ponsel Indonesia sejak 2012.

Berdasarkan laporan Canalys, sepanjang kuartal keempat 2020, Vivo semakin mendominasi ponsel pintar Indonesia. Di tengah permintaan yang menurun karena pandemi corona, penguasaan pasar Vivo mencapai 25%. Pencapaian Vivo dibayangi ketat oleh Oppo dengan pangsa  pasar 24%. Peringkat selanjutnya secara berurutan adalah Xiaomi (15%) dan Realme dengan pangsa pasar yang sama (15%). Sementara di peringkat kelima dihuni Samsung (14%).

Mampu menghantarkan Vivo sebagai penguasa baru pasar ponsel Indonesia, jelas merupakan kredit tersendiri bagi Fachry. Pasalnya, jika kita melongok pada beberapa tahun  ke belakang, Vivo masih merupakan brand yang tergolong medioker.

Tengok saja laporan IDC, pangsa pasar brand asal China itu sebelumnya masih 4% pada kuartal pertama 2017. Menempati posisi 10. Namun tiga tahun kemudian, Vivo mampu menjungkirbalikkan sesuatu yang terkesan tidak masuk akal.

Posisi sebagai vendor nomor satu, menunjukkan produk-produk Vivo sudah diterima oleh konsumen Indonesia. Hal itu tak lepas dari aktifitas promosi yang terbilang gencar sehingga mendorong tumbuhnya brand awareness. Vivo memang mengklaim sebagai marketing company, sehingga selain inovasi dalam hal teknologi, aktifitas pemasaran menjadi nomor satu. Sederhananya, jika produk Vivo semakin dikenal luas, maka penjualan tentunya juga akan meningkat.

Meski telah menjejak di posisi satu, tentu Vivo berusaha untuk melangkah lebih jauh. Dukungan produk yang mumpuni, jaringan penjualan yang luas dan layanan after sales yang merata di banyak kota di Indonesia, membuat Vivo memiliki modal yang kuat untuk mampu mempertahankan posisi sebagai vendor smartphone nomor wahid di Indonesia untuk jangka waktu yang lama.

Dan itu tak lepas dari kontribusi seorang Fachry. Namun setelah prestasi fenomenal yang diraih Vivo, Fachry memutuskan untuk berkiprah di tempat lain.

Kemana setelah paripurna dari Vivo? Kepada saya, Fachry tidak spesifik mengungkapkan akan hijrah kemana. Namun pria berkaca mata ini, menyebutkan ingin mencoba untuk berwiraswasta. Pria yang terkenal ramah ini, ingin menjajal kemampuan lain yang dimilikinya setelah lama berkarir di dunia korporasi.

Steve Saerang

Sejumput Kisah Tentang Fachryansah Farandi (Vivo) dan Steve Saerang (Indosat)

Sejumput Kisah Tentang Fachryansah Farandi (Vivo) dan Steve Saerang (Indosat)

Jika Fachry memutuskan untuk hijrah di luar korporasi, Steve Saerang memilih untuk mencoba tantangan baru. Sejak 15 Februari 2021, ia didaulat sebagai Senior VP Corporate Communication Indosat Ooredoo. Steve menempati posisi yang ditinggalkan Turina Farouk pada akhir September 2020.

Sebelum memutuskan hijrah ke Indosat, kita mengenal Steve sebagai profesional di pengembang e-money. Pria kelahiran Manado ini, merupakan VP Corporate Communication DANA sejak 2018. Perusahaan dompet digital yang dibangun oleh Emtek (Elang Mahkota Teknologi) Indonesia – induk usaha televisi swasta SCTV – bersama dengan Ant Financial, pemilik Alipay, anak usaha Alibaba yang merupakan salah satu raksasa e-commerce dari China.

Sejak beroperasi pada 2016, DANA telah menjelma menjadi salah satu e-money terpopuler di Indonesia. Di pasar yang terus tumbuh karena masyarakat mulai beralih dari pembayaran tunai ke non tunai itu,  DANA bersaing ketat dengan beragam penyedia layanan sejenis, seperti GoPay, OVO, LinkAja, dan Doku.

Pada 2020 pengguna DANA sudah mencapai 35 juta. Pandemi Covid-19 semakin mendorong peningkatan pengguna. Sampai dengan akhir Oktober 2020, terus meningkat mencapai 45 juta pengguna. Artinya, selama masa pandemi sekitar 10 bulan telah tumbuh 10 juta tambahan pengguna.

Sebagai perusahaan fintech, DANA tidak pernah berhenti berinovasi dan melahirkan solusi-solusi baru. Demi
mendorong pertumbuhan, fokus DANA di sepanjang 2021 adalah pengembangan teknologi untuk mendorong masyarakat Indonesia menuju transformasi keuangan digital yang inklusif. DANA tetap fokus pada core business, seperti kerjasama B2B2C alias, business to business to consumer. Khususnya untuk pembayaran pulsa, tagihan, dan digital goods.

Namun di tengah momentum pertumbuhan yang dicapai oleh DANA, Steve memutuskan untuk pamit. Ia ingin mencoba tantangan baru. Dengan bergabung ke Indosat Ooredoo, alumnus Universitas Sam Ratulangi itu, bisa dibilang balik ke “habitat awal”. Karena sebelum berkarir di DANA, Steve lama menjadi bagian dari Telkomsel, khususnya divisi corporate communication. Tak kurang dari 11 tahun ia berkarir di sana. Jabatan terakhir Steve di operator terbesar di Indonesia itu adalah Head of Education & Public Community Development Department.

Kepada saya, Steve mengungkapkan alasan memilih berkarya di Indosat Ooredoo. Awalnya ia sempat ragu karena merasa cukup nyaman dengan culture startup yang sangat agile ditambah lagi dengan playground yang sangat luas untuk diexplore.

Namun saat melihat core value yang ada di Indosat Ooredoo, dirinya melihat nilai yang sejalan dengan passion pribadi untuk selalu menghadirkan impact bagi sesama dan sekitar. Pada akhirnya ia pun menerima tantangan tersebut dan remi bergabung mulai 15 Februari 2021.

Steve memang tidak sekedar asal bicara. Faktanya, Indosat Ooredoo adalah perusahaan telekomunikasi yang terus bertransformasi sesuai dengan tantangan di era digital saat ini. Kerja keras dan penerapan budaya kerja yang baru berdampak luar biasa bagi penyelenggaraan bisnis perusahaan.

Laporan hasil kinerja sepanjang 2020 merupakan bukti nyata dari semangat untuk memberikan hasil yang didukung oleh perubahan pola pikir dan keterbukaan untuk menerima perubahaan untuk sesuatu yang lebih baik. Berbagai indikator menyangkut corporate value kembali menghijau. Diantaranya:

  • Pendapatan selular meningkat 11,6% YoY menjadi Rp23,1 triliun
  • Total pendapatan naik 6,9% YoY menjadi Rp27,9 triliun
  • EBITDA meningkat 16% YoY menjadi Rp11,4 triliun
  • Marjin EBITDA mencapai 49%, peningkatan dari 37.7% dibandingkan 2019

Dengan jumlah pelanggan lebih dari 60,3 juta, Steve sangat optimis dengan kinerja Indosat Ooredoo ke depannya. Demi menjaga momentum pertumbuhan, perusahaan akan terus berinovasi, agar kepuasan pengguna dapat terus terjaga.

Terima kasih telah membaca artikel

Sejumput Kisah Tentang Fachryansah Farandi (Vivo) dan Steve Saerang (Indosat)