Mitos Seputar Lari

5 Mitos Seputar Lari yang Sebaiknya Segera Anda Hindari

Kendati lari sudah menjadi gaya hidup masa kini, nyatanya masih ada segelintir mitos seputar lari yang dipercaya sejumlah orang. Anggapan-anggapan tanpa dasar fakta tersebut tak hanya menimbulkan salah paham, tetapi juga memicu risiko yang tidak Anda inginkan saat sedang berolahraga. Mungkin Anda baru akan merasakannya setelah tanpa sadar melakukan kesalahan tersebut dalam jangka waktu panjang.

Menyoal tentang mitos-mitos yang tersebar, berikut ini ada pemaparan dari Michele Olson—profesor ilmu olahraga dari Auburn University Montgomery.

Mitos Seputar Lari
Mitos Lari

Wajib Melakukan Peregangan Sebelum Berlari

Olson mengungkapkan jikalau peregangan statis bukanlah metode optimal untuk warming up atau pemanasan sebelum berlari. Faktanya, kegiatan tersebut justru akan menegangkan otot dan melambatkan kecepatan Anda saat lari. Alih-alih meregangkan tubuh, sebaiknya Anda fokuskan pemanasan pada asupan oksigen agar otot tetap hangat. Lakukan dengan berjalan santai hingga cepat, mengayunkan lengan, dan angkat bahu. Walau demikian, bukan berarti Anda melupakan peregangan sepenuhnya. Tetap praktikan di sela-sela pemanasan, hanya saja dibarengi kala otot mulai menghangat.

Minimnya Kalium Menyebabkan Kram Pada Kaki

Kram kaki merupakan salah satu gangguan yang sering terjadi pada pelari. Namun, penyebabnya tidak melulu minimnya kadar kalium. Rendahnya glukosa, natrium, dan air adalah pemicu-pemicu lain yang berkontrubsi terhadap kram kaki. Pasalnya, glukosa digunakan kala tubuh melakukan aktivitas yang berat seperti berlari. Supaya risiko kram berkurang, luangkanlah waktu selama 60 sampai 90 menit agar tubuh Anda dapat membersihkan diri dari asam laktat. Hal tersebut akan melancarkan kembali peredaran gula darah dalam tubuh. Minum air putih juga akan mencegah Anda dari dehidrasi.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Selalu Melakukan Cooling Down Seusai Berlari

mitos seputar lari selanjutnya adalah cooling down atau pendinginan yang selalu dilakukan setelah Anda berlari. Sebagian orang merasa harus melakukan kebiasaan tadi sebelum duduk dan mengatur napas. Padahal, menurut Olson, tidak ada yang salah dengan langsung duduk untuk menenangkan napas tanpa harus cooling down dulu. Pendinginan memang bermanfaat karena dapat meningkatkan kemampuan dari tubuh Anda ke kondisi normal, tetapi hukumnya tidaklah wajib. Pasalnya, pengaturan napas saja sudah cukup menurunkan temperatur tubuh.

Makin Fleksibel, Makin Bagus Kualitas Larinya

Banyak yang masih mengira kalau fleksibilitas tubuh akan meningkatkan kualitas seorang pelari. Akan tetapi, pada kenyataannya, sendi yang terlampau lentur malah kurang seimbang serta rentan dan rendah terhadap kondisi kecapaian. Dibutuhkan kombinasi fleksibilitas dan kekuatan yang stabil supaya Anda terhindar dari cedera. Sendi yang stabil terdiri dari otot-otot yang kuat yang tidak membuat sendi tersebut bergerak secara berlebihan. Biasanya hal tersebut yang memicu cedera. Maka, jagalah kestabilan sendi Anda supaya kualitas lari semakin baik.

Berlari Mampu Mencegah Risiko Osteoporosis

Seperti olahraga lainnya, berlari punya banyak manfaat untuk kesehatan, salah satunya mencegah risiko osteoporosis. Hal tersebut dikarenakan berlari mampu menguatkan pinggul dan tulang belakang. Namun, perlu dicatat bahwa osteoporosis juga disebabkan berbagai pemicu, seperti kurangnya massa di tulang. Bahkan berjalan hanya akan membebani tulang di bagian bawah. Untuk mencegah osteoporosis secara maksimal, maka lakukan aktivitas fisik yang melibatkan seluruh tubuh. Memberi asupan makan yang kaya akan kandungan gizi dan nutrisi pun akan membantu Anda untuk tetap bugar.

Semoga fakta-fakta yang menjelaskan sejumlah mitos seputar lari di atas membantu Anda untuk terus menjalankan gaya hidup sehat.

Terima kasih telah membaca artikel

Mitos Seputar Lari