Mengenal Stereotactic Brain Lesioning dan Deep Brain Stimulation, Pembedahan untuk Pasien Parkinson

Jakarta – Parkinson menjadi salah satu penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Penyakit ini menyerang kerusakan pada sel saraf di bagian otak atau yang disebut dengan substantia nigra.

Substantia nigra ini berfungsi mengontrol produksi dopamin di otak sehingga tubuh dapat bergerak secara normal. Saat dopamin rusak dan fungsinya hilang, sirkuit gerakan di otak pun menjadi terganggu.

Dokter ahli bedah saraf Mayapada Hospital BMC Bogor, dr. Muhammad Agus Aulia Sp.BS, mengatakan terdapat tiga gejala utama parkinson, yakni rigiditas, bradikinesia, dan tremor. Meski demikian, tidak semua gejala ini muncul pada pasien parkinson.

“Ada tiga gejala awal atau kita sebut gejala kardinal, terdiri atas rigiditas atau kekakuan pada sendi, bradikinesia atau perlambatan dalam bergerak, dan tremor. Pada masa awal, tidak semua tiga tanda ini muncul. Bisa saja orang yang menderita parkinson hanya mengalami rigiditas saja atau tremor saja yang sifatnya ringan dan hanya terdapat pada satu sisi saja,” ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Untuk mendiagnosa parkinson, dr. Agus pun menjelaskan perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut. Sebab, tidak semua gejala awal merupakan tanda-tanda parkinson.

“Saat gejala awal ini muncul, dokter tidak akan langsung mendiagnosis parkinson. Tapi seiring berjalannya waktu, bisa timbul gejala lain. Misal tadinya (gejala) hanya di tangan, namun kakinya juga ikut kaku. Kemudian bisa ditemani dengan gejala lain, seperti tremor,” katanya.

“Ada juga gejala nonmotor, tapi biasanya ini terjadi pada fase lebih lanjut. Ini bisa berupa gejala psikiatrik, seperti depresi, gangguan kognisi, atau dimensia. Jadi, variannya banyak sekali dan untuk mendiagnosis perlu melihat tiga gejala awal tadi. Kalau kita sudah lihat ada tiga tanda tadi, baru kita bisa diagnosis dengan parkinson,” tambahnya.

Soal penyebab parkinson, dr. Agus menjelaskan hingga kini belum diketahui penyebab pada parkinson primer. Namun, hal ini bisa disebabkan oleh menurunnya fungsi otak saat usia lanjut. Sementara pada secondary parkinson, bisa disebabkan akibat pascastroke, paska infeksi atau tumor yang mengenai bagian substantia nigra.

Lebih lanjut dr. Agus mengatakan parkinson juga memiliki tingkat keparahannya tersendiri. Pada stage awal, biasanya pasien akan mengalami gejalanya ringan dan hanya di satu sisi, serta tidak mengganggu aktivitas.

Sementara pada stage 2, gejalanya akan terjadi pada dua sisi, yakni kanan dan kiri. Pada saat ini, pasien mulai mengalami gangguan dalam beraktivitas sehari-hari, seperti makan atau pakai baju.

“Kemudian yang ketiga ini sudah mulai lebih berat, gejalanya sudah di kedua sisi dan aktivitas sehari-hari terganggu. Berikutnya pada tahap keempat, bisa disertai gangguan keseimbangan yang berat, biasanya mulai butuh bantuan orang lain untuk jalan, ganti baju, atau makan. Dan di stage lima bisanya pasien sudah di tempat tidur saja atau dikursi roda saja, tidak bisa beraktivitas,” katanya.

Meski penyebab utama parkinson terjadi karena kurang dan hilangnya dopamin di otak, namun sayangnya penyakit ini belum bisa disembuhkan. Untuk itu, pasien biasanya akan diberikan obat untuk menggantikan dopamin tersebut.

“Karena penghasil dopamin yang hilang, obat yang diberikan adalah untuk menggantikan dopamin, namanya Levo-dopa. Itu adalah fase awal pengobatan. Jika semakin berat gejalanya, dosis obat ini akan ditambah dan juga dikombinasi dengan obat lain sehingga bisa saja pasien parkinson obatnya sampai 12-15 macam tablet. Obat-obat yang diberikan selama ini untuk mengurangi dan memperlambat gejala,” katanya.

Namun, pada penderita parkinson dapat terjadi kondisi obat memberi respon baik, atau ‘masa on‘, dan tidak memberi respons atau ‘masa off’. Ketika pemberian obat tidak optimal, diperlukan operasi atau pembedahan, yakni Stereotactic Brain Lesioning atau Deep Brain Stimulation (DBS). Adapun tindakan operasi ini dilakukan dengan menstimulasi listrik atau memanaskan pusat gerakan di otak yang bermasalah.

Tindakan Stereotactic Brain lesioning menggunakan alat khusus, yakni Frame Stereotactic dan Mesin Radiofrequensi. Dengan frame stereotaktik ini, bisa diketahui koordinat titik pusat otak yang bermasalah ( Thalamus, Pallidum atau Subthalamus). Kemudian dengan mesin Radiofrequensi dapat menghasilkan stimulasi listrik dan panas yang tinggi untuk men-stimulasi dan memanaskan titik di pusat otak yang bermasalah. Dengan bantuan jarum halus panjang atau disebut jarum elektroda dengan diameter sekitar 1-2 mm, Jarum ini nantinya akan terhubung dengan mesin radiofrequnesi. Dengan stimulasi listrik dan pemanasan tinggi, daerah yang bermasalah di otak dapat menjadi normal atau mendekati normal sehingga efektif untuk mengurangi gejala parkinson. Dengan prinsip yang sama, pada tindakan Deep Brain Stimulation, dititik pusat otak di tanam alat khusus ( DBS ), semacam alat pacu otak yang dapat menghasilkan listrik secara kontinu yang dapat diatur, sehingga gerakan dapat menjadi-mendekati normal ketika alatnya di hidupkan.

“Ketika obat tidak optimal, di situlah peran dari operasi. Ada dua tipe operasi yang bisa dilakukan. Pertama, melakukan stimulasi pada pusat di otak yang rusak tadi dengan alat yang disebut Deep Brain Stimulation (DBS). Dengan operasi, kita implantasi alat ini ke dalam otak,” katanya.

“Yang kedua yang sering saya lakukan adalah memanaskan. Prinsipnya sama saya memasukan jarum elektroda ke dalam inti otak yang bermasalah. Kemudian dipanaskan agar mendekati normal. Dengan melakukan itu, gejala parkinson bisa berkurang hingga menghilang. Dan masa on dan off-nya bisa membaik,” tambahnya.

Menariknya, dr. Agus mengatakan operasi parkinson dilakukan secara sadar. Dengan demikian, dokter dapat melihat langsung hasil dari stimulasi atau pemanasan tersebut. Namun, operasi tetap memerlukan MRI untuk menilai kondisi otak dan panduan dalam operasi.

“Kenapa harus sadar? Karena kita ingin melihat hasilnya langsung, biasanya pasien dengan tremor hebat dan saat kita panaskan dan kalau lokasinya tepat, saat itu juga tremornya bisa langsung hilang dan berhenti. Pada beberapa kasus, misalnya dia seorang pemusik kita suruh dia main gitar. Yang awalnya main gitarnya susah, dan saat kita panaskan atau stimulasi tiba-tiba bagus,” katanya.

Selain efektif, metode DBS juga termasuk tindakan yang minim efek samping. Bahkan, DBS dapat mengurangi munculnya gejala parkinson selama 4-5 tahun atau lebih.

“Kasus recurrent bisa saja terjadi karena penyakit ini sejatinya memburuk dan belum ditemukan obatnya. Cuma dengan operasi ini, pada sebagian besar kasus gejalanya bisa terkontrol selama 4-5 tahun, bisa juga kebih lama dari itu” katanya.

“Risiko dan efek samping tentu ada cuma secara statistik jarang terjadi. Walaupun ada, efek sampingnya dapat kita hindari. Misalnya saat kita masukan jarum, dan pasien merasa tangannya melemah, berarti itu titiknya perlu kita geser. Jadi, cukup kecil angka risiko atau efek samping yang terjadi,” pungkasnya.

Saat ini tindakan Implantasi Deep Brain Stimulation dan Stereotactic Brain Lesioning dapat dilakukan di RS BMC Mayapada Hospital. Tindakan ini didukung oleh para dokter ahli dan alat medis yang canggih dan memadai.

Tak hanya itu, Mayapada Hospital juga membuka layanan telekonsul terkait penyakit apa pun. Bagi yang ingin menggunakan layanan tersebut, silakan hubungi 150770.

Sebagai informasi, pada kuartal III 2021, Mayapada Hospital akan membuka cabang di Jalan Mayjen Sungkono nomor 20, Surabaya Barat, Jawa Timur. (adv/adv)

Terima kasih telah membaca artikel

Mengenal Stereotactic Brain Lesioning dan Deep Brain Stimulation, Pembedahan untuk Pasien Parkinson