Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja?, mana pilihan mu?

Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja?. Pertanyaan ini seringkali muncul membentang disepanjang kehidupan kita sebagai manusia. Sebagai seorang manusia bekerja adalah sesuatu yang mutlak yang harus kita lakukan untuk dapat bertahan hidup. Bahkan sedini mungkin anak-anak pun sudah mulai dilatih atau diarahkan pada keterampilannya. Supaya kelak mereka bisa hidup mandiri dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya pribadi tanpa harus bergantung kepada orang lain.

Pekerjaan pun merupakan sesuatu yang wajib dimiliki oleh orang dewasa. Bagi seorang lelaki terutama. Harus sekali untuk mempunyai sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan sejumlah uang untuk menafkahi hidupnya pribadi juga kehidupan keluarganya. Laki-laki harus membanting tulang bekerja keras, tidak boleh malas. Ini memang kodratnya. Bila laki-laki menjadi seorang pemalas yang tidak mau bekerja, maka, akan muncul pertanyaan, apakah dia masih bisa dianggap sebagai seorang lelaki?.

Karena memang sudah kodratnya dari dulu seorang pria wajib memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya bila dia telah berkeluarga. Dan terlebih untuk jaman seperti sekarang ini. Dimana kebutuhan sehari-hari terus meningkat. Harga kebutuhan sandang, pangan dan papan terus melonjak. Dan ini terkadang pun menuntut seorang lelaki perlu bekerja lebih giat, dan bahkan itupun tak cukup dan mesti dibantu juga oleh pasangannya, istrinya yang harus juga turut bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan internal keluarga mereka pribadi. Sudah wajar harusnya berjalan seperti ini untuk tetap bisa bertahan hidup dalam kondisi kehidupan sekarang ini.

Baca juga : Guru tewas dianiaya murid !



Kondisi seperti ini sudah sangat sulit untuk terelakkan dijaman sekarang ini. Bagi mereka yang tidak memiliki pilihan lain, maka hidup untuk kerja akan menjadi satu-satunya pilihan yang harus dijajaki setapak demi setapak. Seluruh waktu harus dihabiskan untuk menjalani rutinitas pekerjaan sehari-hari. Tidak ada waktu untuk sanak keluarga, ataupun berkumpul bersama teman-teman. Pekerjaan pun harus terpaksa terus dilakukan walaupun hati tak nyaman.

Pada beberapa kondisi kehidupan nyata, hal ini tidak dapat terelakkan lagi. Ini merupakan tuntutan dalam kehidupan kita. Kita harus bekerja. Kita musti mendapatkan pekerjaan untuk menghasilkan uang agar dapat membeli makanan dan bertahan hidup. Namun, pada beberapa kondisi lain juga, ternyata ada juga beberapa individu yang sebenarnya mempunya kesempatan untuk membuat pilihan. Mungkin tidak disadari juga kadang, tapi ada kalanya manusia memiliki kesempatan memilih dari awalnya sebelum mengambil sebuah pekerjaan.

Terdapat kesempatan diawal sebelum megambil keputusan untuk menerima sebuah penawaran kerja. Kesempatan untuk memilih bekerja untuk sekedar mencari uang, atau bekerja untuk membuat hati senang juga. Gaji tinggi atau hati senang?, ini perlu juga dipertimbangkan sedari awal sebelum menjalani sebuah pekerjaan, agar tidak ada penyesalan dan bisa lebih enjoy dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari itu nantinya. Sama hal nya dengan pertayaan kita pada topik kali ini sebenarnya, nyerempet-nyerempet dikit ya.

Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja?. Yang mana yang akan menjadi jawaban kamu diawal ini?. Jawaban kamu ini akan menentukan juga untuk karir kamu kedepannya. Seperti apa dan bakal melesat secepat apa, bisa tergantung pada jawaban untuk prinsip kamu dalam menjalani pekerjaan ini.

Jika kamu sedang berada pada posisi yang bisa memilih, tetapi kamu tetap menjawab “hidup untuk kerja”. Maka, kemungkinan yang bisa terjadi adalah kamu akan benar-benar fokus pada pekerjaan kamu dan melupakan yang lainnya. Kamu bisa mengabaikan teman, pasangan, keluarga maupun hal lainnya. Kamu akan benar-benar mengejar target hasil pekerjaan mu dengan berbagai macam cara kreatif kamu. Kamu akan mendedikasikan kehidupan kamu ini sepenuhnya untuk mengejar kesuksesan karir pekerjaan kamu, dan ini bisa membuat kamu melejit cepat dalam menggapai kesuksesan.

Bagus memang jika kamu bisa mendedikasikan fokus mu kepada pekerjaan mu. Kemungkinan besar kamu akan sukses karena gigih dan giat dalam bekerja. Namun, akan ada harga yang harus dibayar juga. Waktu tidak bisa kamu beli kembali. Seiring waktu yang berlalu itu, kamu akan sukses menggapai target kerja mu. Tetapi kamu akan kehilangan waktu-waktu kebersamaan dengan orang-orang yang sebenarnya merindukan kamu. Tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Tidak ada namanya lancar terus dalam hidup ini. Masalah akan selalu timbul. Akan ada harga atau pengorbanan yang mesti dilakukan dalam menggapai kesuksesan.

Bila jawaban kamu adalah, “kerja untuk hidup”. Maka kamu pasti akan memilih pekerjaan yang sesuai dengan talenta atau bakat yang kamu miliki. Kamu akan cenderung mencari pekerjaan sesuai dengan apa yang kamu sukai. Menjalaninya dengan senang hati tanpa ada rasa beban. Mungkin pekerjaan yang tidak terlalu menghasilkan uang banyak, tapi cukup. Karena untuk orang yang memilih “kerja untuk hidup”. Mereka akan selalu mencari cara untuk menjaga keseimbangan, antara pekerjaan dengan waktu bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi. Mereka tidak suka bekerja terlalu ngotot dan lembur terlalu lama, karena mereka berfikir waktu merupakan sesuatu yang amat berharga untuk dihabiskan juga bersama orang yang disayangi, bukan hanya untuk pekerjaan.

Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja?

Tidak ada yang salah dalam jawaban apapun yang akan kamu kemukakan. Mau kerja untuk hidup, atau hidup untuk kerja, semua adalah hak setiap orang untuk memilih jalan hidupnya. Hanya saja lebih baik bisa menentukan dari awal agar kamu tahu tujuan jelas kamu dalam menjalani hidup ini. Dan tidak sedikit juga yang memiliki jawaban fifty fifty atau 50:50.

Maksudnya adalah, ada juga beberapa orang yang pasti tidak memilih untuk menjawab salah satu, tapi malah membuat jawaban sendiri, seperti: Saya akan menjalani hidup untuk kerja, kemudian baru memilih kerja untuk hidup. Saya akan fokus mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan saya sampai usia 30 misalnya. Lalu baru mencoba pilihan kerja untuk hidup setelah memiliki beberapa tabungan untuk backup finansial kedepannya.

Jadi, lihat, semua jawaban ada benarnya kan?. Tidak ada jawaban yang salah. Hindari untuk mempunyai pikiran yang paling benar, atau merasa paling benar. Semua jawaban dan pilihan itu merupakan hak asasi manusia, dan tidak ada yang salah selama jawaban maupun pilihannya tersebut tidak merugikan atau menyakiti orang lain.

Beda kepala beda pemikiran. Hal ini juga yang ingin kami sampaikan kepada para pembaca sekalian. Dalam menyingkapi sebuah pertanyaan seperti Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja, janganlah mencoba untuk mencari jawaban yang paling benar. Karena dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya tidak ada jawaban yang paling benar atau paling salah. Keduanya bisa menjadi benar atau bisa menjadi salah tergantung pada bagaimana situasi dan kondisi yang menyertainya.

Kesimpulannya dari pertanyaan kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja adalah, kalau bisa paling baik adalah seimbangkan keduanya.

Terima Kasih,
IDRTimes

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: