Kenali Lebih Dekat Penyakit Demam Keong

IDRTimes – Penyakit demam keong atau schistosomiasis banyak ditemukan di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di dataran tinggi Lindu, Napu, dan Bada. Demam keong sendiri merupakan penyakit menular menahun yang menginfeksi manusia serta juga hewan ternak.

Penyebabnya ialah cacing Schistosoma japonicum. Cacing ini mampu hidup di pembuluh darah, terutama di kapiler darah dan vena kecil dekat selaput usus. Schistosomiasis juga dapat mengakibatkan kelainan pertumbuhan yang menyebabkan kerusakan hati dan limfa. Bila tidak ditangani akan menyebabkan kematian.

Demam keong memang masih asing di telinga Anda. Namun, manusia dapat berisiko tertular melalui kontak langsung seperti mencuci dan mandi dengan air yang mengandung larva infektif serkaria. Larva tersebut mampu dibawa oleh keong hidup.

“Keong tersebut bukanlah keong yang besar, keongnya itu kecil hanya empat mili saja,” ujar Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, saat peluncuran Roadmap Eradikasi Schistosomiasis di Bappenas, Rabu (17/1/2018).



Pria di Qatar Menemukan Bercak Darah dalam Urine, Ternyata Pengapuran Kandung Kemih Akibat ‘Demam Keong’

Bercak darah dalam urine sering dikenal sebagai gejala infeksi parasit Schistosoma, di mana banyak kasus ditemukan di Afrika dan Asia. Dan seorang pria di Qatar baru-baru ini mendapatkan gejala tersebut yang disertai dengan nyeri saat buang air kecil. Pemeriksaan menunjukkan ada infeksi Schistosoma, parasit yang menyebabkan snail fever atau demam keong.

Namun dalam kasus tersebut, dokter menemukan hal lain dalam pemeriksaan panggul dan perut. Ternyata pria tersebut mengalami pengapuran kandung kemih.

The New England Journal of Medicine menyebutkan jika parasit Schistosoma bersarang di dekat kandung kemih dan saluran kemih. Telur parasit bergerak masuk ke kandung kemih, dan akhirnya menempel di dinding.

“Namun respons sistem imun membuat sebagian dinding kandung kemih mengalami pengapuran,” kata Dr Ronald Blanton, ilmuwan dari Case Western Reserve University yang meneliti Schistosoma namun tidak terlibat dalam kasus ini, seperti dikutip dari Livescience.

Pemindaian area panggul yang dilakukan menunjukkan adanya pengapuran yang menyerupai sekumpulan telur, yang terbentuk di pinggiran kandung kemih. Pola ini dikenal sebagai ‘eggshell calcification’.

Cara Perkembangan dan Penularan

Anak-anak juga bisa terinfeksi saat berenang, sedangkan pada orang dewasa penularan bisa terjadi akibat mencuci di air yang tercemar parasit. Larva yang dibawa keong tersebut bisa menembus kulit manusia dan akan menjadi cacing dewasa. Berkembangnya serkaria tersebut terjadi karena lingkungan yang kurang higienis dan lahan-lahan yang selalu basah.

Cara mengetahui seseorang menderita demam keong didasari melalui pemeriksaan tinja yang ditemukan telur cacing schistosoma. Pencegahan dan pemutusan rantai penularan sudah dilakukan oleh pemerintah setempat, seperti penemuan dini dengan pemeriksaan tinja dan pemberian pengobatan masal serta pemberantasan keong perantara. (/EA)

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: