Kasus COVID-19 Masih Fluktuatif, Eks Bos WHO Bicara Puncak Omicron BA.5 di RI

Jakarta

Indonesia mencatat sebanyak 6.167 kasus harian baru COVID-19 per Rabu (3/8/2022). Dengan begitu, kasus aktif COVID-19 Indonesia kini sebanyak 50.857 kasus.

Sebelumnya, kasus harian COVID-19 dan jumlah pasien yang memerlukan perawatan sempat menurun. Pada Senin (1/8), kasus harian COVID-19 sempat di bawah lima ribu kasus, sementara Selasa (2/8), kasus aktif kembali naik di angka 5.827 kasus.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menyatakan dengan tren kasus harian COVID-19 yang fluktuatif ini jadi agak sulit untuk memastikan apakah puncak gelombang Omicron BA.4-BA.5 sudah terlewati atau belum.


“Belum bisa memastikan apakah puncak terlewati tetapi tetap waspada dengan tren fluktuatif ini,” ucapnya dihubungi detikcom, Kamis (4/8/2022).

Apalagi menurutnya, terkadang ada semacam anomali dimana kasus harian COVID-19 di akhir pekan sering menurun angkanya.

“Tidak bisa memakai angka harian saja, bahkan biasanya yah biasanya ada semacam kebiasaan seperti sabtu minggu angka kita turun, terus senin selasa naik, kita boleh pakai rata-rata mingguan buat lihat pastinya,” sambungnya.

Ia menambahkan, untuk saat ini memang agak sulit menentukan apakah gelombang Omicron sudah tercapai atau belum. Menurutnya, tren kasus dunia masih mengalami fluktuasi maka dari itu sebaiknya Indonesia tetap waspada.

“Agak sulit memprediksi secara akurat apakah puncak tercapai atau tidak tercapai. Memang situasinya masih sulit yah, memang ada kenaikan tren di dunia tapi seminggu ini justru turun tren dunia,” jelasnya.

“Kita belum sepenuhnya tahu perangai dari virus ini memang tidak terlalu mudah memprediksi apakah akan naik atau turun jadi tetap waspada dulu,” pungkasnya.

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril menekankan puncak kasus COVID-19 masih dalam evaluasi. Puncak Omicron BA.4-BA.5 sebelumnya diperkirakan tiba pada minggu ketiga atau minggu keempat Juli 2022.

“Masih dievaluasi,” tegasnya, saat dihubungi detikcom, Selasa (2/8).

Sebelumnya, jumlah kasus harian juga disebut-sebut bisa mencapai 20 ribu per hari. Ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia tak yakin jumlah kasus harian bisa ditemukan lebih dari 20 ribu, lantaran tes yang dilakukan saat ini cenderung tidak masif.

Dicky menyebut, kelanjutan puncak Omicron BA.5 bisa diperpanjang dengan masuknya BA.2.75.

“Makanya saya melihat masa kritis harus kita waspadai sampai Oktober,” terang dia beberapa waktu lalu.


Terima kasih telah membaca artikel

Kasus COVID-19 Masih Fluktuatif, Eks Bos WHO Bicara Puncak Omicron BA.5 di RI