Media Sosial – Hati-hati dengan Media Sosial Anda

Media Sosial – Apakah Anda memiliki dan aktif menggunakan akun media sosial? Waspadalah karena penggunaan media sosial berpotensi besar memicu kecemasan. Pernyataan itu tidaklah sembarangan karena telah dilansir oleh sejumlah hasil penelitian dan dikonfirmasi oleh para pakar. Dilansir dari Harian Kompas, tingkat kecemasan ternyata dipicu oleh pemakaian media sosial yang kurang tepat.

dampak media sosial untuk anak

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) khususnya pada saat diselenggarakannya Pilkada DKI Jakarta 2017. Tingkat kecemasan yang lebih tinggi dijumpai pada warga DKI Jakarta. Mereka adalah yang mengakses dan memantau perkembangan terbaru informasi menjelang dan sesudah Pilkada diselenggarakan. Terlibatnya dalam kampanye digital dan berbagai perdebatan kian menambah pelik persoalan tersebut.

Hasil studi dari PDSKJ itu juga mengungkapkan bahwa topik yang kerap memicu kecemasan ialah penistaan agama, disusul berita hoax, rasisme, dan sebagainya. Pada saat kampanye Pilkada diselenggarakan, isu-isu tersebut memang semakin menguat. Dan jangan lupa bagaimana banyak orang mudah terpancing hanya karena membaca sebuah headline di media online.



Tren Penggunaan Internet di Indonesia

Indonesia sekarang ini merupakan negara di urutan 4 untuk penggunaan internet. Setidaknya, lebih dari 50 persen penggunaan internet di Indonesia dari total seluruh penduduknya. Fakta yang sangat mencengangkan karena ternyata begitu besar minat orang Indonesia pada dunia internet. Kebanyakan memang baru menggunakan akses internet untuk pemakaian media sosial. Hal itulah yang mengkhawatirkan karena potensi negatif yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan media sosial yang kurang tepat.





Kedewasaan Penggunaan Media Sosial

Hal yang sangat mengkhawatirkan dari penggunaan media sosial ialah masih banyaknya orang yang belum menyadari konsekuensinya. Media sosial kerap digunakan tanpa pemahaman yang menyeluruh tentang etika dan bagaimana seharusnya dipakai sesuai kepentingan. Kedewasaan pemakaian media sosial ini malah banyak dijumpai pada pengguna internet yang seharusnya sudah memahami batas-batas dan etikanya.

Kita pun sering menemukan fenomena yang terlihat menggelikan ketika orang berurusan dengan media sosial. Sebuah masalah bisa sangat dibesar-besarkan akibat interaksi yang terbangun di antara para pengguna media sosial seperti gejolak perdebatan yang tanpa ujung. Menunjukkan bahwa kegagapan teknologi masih dialami oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Sementara teknologi gadget yang berkembang pesat, akses internet yang kian murah, menimbulkan fenomena yang kian kompleks.

Adanya kesempatan tak terbatas mengakses informasi di dunia maya tak termanfaatkan dengan baik. Banyak yang cuma menggunakannya untuk bersenang-senang atau melampiaskan kepenatan setelah beraktivitas. Tak jarang malah kebiasaan mengakses dunia maya berpengaruh besar pada kehidupan sehari-hari.

Ancaman yang terjadi adalah internet dan media sosial bukan menjadi sarana yang mencerdaskan. Justru kian memicu konflik dan kecemasan di tengah masyarakat. Karena itulah diupayakan metode yang tepat dalam mengenalkan internet kepada masyarakat. Hal ini hanya bisa dimulai dari dini, yaitu usia kanak-kanak.

Anak-anak kerap menjadi korban dan tanpa disadari oleh orang tuanya justru terjerumuskan pada cara penggunaan internet yang tak bertanggungjawab. Kesalahan terbesar terletak pada orang tua yang kurang menyadari arti penting edukasi pemakaian internet yang tepat. Oleh karena itu dibutuhkan solusi yang tepat untuk mendidik sejak dini perihal pemakaian internet dan media sosial.

Panduan Akademi Pediatri Amerika

Baru-baru ini dirilis beberapa panduan khusus dari Akademi Pediatri Amerika (APA). Lembaga ini memberikan sejumlah panduan khusus kepada orang tua dalam kaitannya dengan pemakaian internet. Tujuannya supaya orang tua dan anak-anak tak sembarangan menggunakan teknologi informasi. Kategorisasinya disusun berdasarkan usia anak.

Mulai dari anak-anak yang belum berusia 18 bulan. Sangat dianjurkan oleh APA untuk tidak mendekatkan atau memperlihatkan layar gadget ke anak yang masih berusia segitu. Sedangkan bagi anak-anak yang sudah berusia 18 bulan hingga 24 bulan, mereka hanya boleh menonton tayangan-tayangan yang sifatnya edukatif. Biasanya diakses melalui YouTube dengan pilihan tayangan yang mestinya sangat selektif bagi mereka. Bagi anak yang sudah mencapai usia 2 sampai 5 tahun, mereka diperbolehkan mengakses jaringan internet selama sekitar satu jam dan wajib didampingi oleh orang tuanya. Kalau sudah berusia 6 tahun, mereka boleh menggunakan gadget tapi juga wajib dibatasi sendiri oleh orang tuanya.

Baca juga : Makanan Teraneh

Penerapan di Indonesia

Sejauh ini memang belum ada penerapan yang formal di Indonesia mengenai pemakaian internet bagi anak-anak. Tapi diharapkan ada regulasi khusus, misalnya dari Ikatan Dokter Anak Indonesia mengenai penggunaan media sosial. Kalau bisa malah menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Jiwa Indonesia demi merumuskan gagasan panduan yang lebih relevan.

Yang sulit dipungkiri memang fakta yang kerap terjadi di Indonesia. Bagaimana anak-anak dengan bebasnya dibiarkan oleh orang tuanya mengakses internet. Bahkan dari usia yang masih dini sudah dibelikan gadget sendiri. Sementara orang tua cenderung jarang mengontrolnya. Fenomena itu tak jauh bedanya kalau kita mengingat bagaimana televisi berpengaruh pada kerusakan mental dan cara berpikir anak-anak. Bedanya adalah pada perangkat teknologi dan kecanggihannya. Internet merupakan ruang teknologi informasi yang jauh lebih canggih namun pada saat bersamaan juga punya efek yang sangat mengerikan bagi anak-anak. Banyak contoh yang sudah sering kita ketahui dari beragam pemberitaan mengenai dampak buruk internet pada anak-anak berusia dini.

Fenomena Followers

Bagi anak-anak, penggunaan media sosial punya dampak yang sangat mengkhawatirkan, seperti pada contoh followers. Rasa percaya diri kian tinggi kalau akun media sosial yang mereka miliki memiliki jumlah pengikut yang besar. Status sosial seolah-olah naik beberapa derajat jika punya jumlah follower yang gila-gilaan. Akibatnya terbentuk obsesi untuk terus menambah follower dan senantiasa mengecek akun media sosialnya.

Hati-hati dengan Media Sosial Anda

Analogi yang sama terjadi pada orang dewasa. Banyak orang dewasa yang sadar atau tidak mulai tergantung pada akun media sosial masing-masing. Sama halnya dengan fenomena follower tadi. Ada keinginan untuk populer dan indikatornya ialah dengan penambahan jumlah follower yang signifikan.

Terbentuklah rasa bahagia ketika memiliki jumlah follower yang sangat banyak. Pemakaian internet cenderung menjadi kompulsif. Akan dengan sigapnya mengecek kalau ada notifikasi masuk. Bahkan kalau tak ada notifikasi akan selalu mengeceknya. Jika tak ada notifikasi sama sekali akan merasa khawatir. Tak ada chat dalam satu hari yang masuk bisa menyebabkan orang merasa frustrasi. Hal itu merupakan gejala yang menandakan mulai ada yang sakit di tengah masyarakat kita. Orang menjadi semakin tergantung pada gadget yang ia gunakan dan koneksi internet. Tak ada koneksi internet menjadi sangat resah. Sedikit-sedikit mengecek baterai apakah masih penuh. Di samping itu masih membayangkan keinginan memiliki gadget terbaru yang lebih canggih dan tentu saja mahal.

Indikator Kebahagiaan

Benarkah bahwa internet dan media sosial sekarang ini menjadi indikator kebahagiaan kita? Jawabannya tentu harus bisa kita jawab sendiri. Karena indikator kebahagiaan bagi tiap manusia itu pada dasarnya berbeda. Dan kalau di zaman sekarang, seolah-olah semuanya tersatukan pada satu jaringan maya.

Lalu, Bagaimana dengan pendapat Anda sendiri ?

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: