Fakta-fakta D-dimer yang Disinggung Saat Ashanty Kritis Akibat COVID-19

Jakarta

Penyanyi Ashanty dikabarkan kritis saat positif COVID-19. Sang suami, Anang Hermansyah, mengatakan kondisi Ashanty sempat memburuk dan D-dimer-nya tinggi.

“Autoimun ini yang bisa trigger macam-macam. Trigger dipaksa ke rumah sakit dicek darah d-dimer-nya tinggi kekentalan darahnya sangat kental. Kalau ini nutupin saluran-saluran di pernapasan ini yang nggak bisa dikendalikan,” tutur Anang Hermansyah.

D-dimer adalah kondisi pasien Corona mengalami pembekuan darah. D-dimer adalah fragmen protein yang muncul saat bekuan darah larut dalam tubuh.

Dalam kondisi normal, tubuh memiliki mekanisme untuk melakukan pembekuan dan pengenceran darah. Pembekuan darah ini umumnya terjadi saat luka, untuk mencegah pendarahan terus-menerus.

Berikut fakta-fakta mengenai D-dimer.

1. D-dimer pada pasien COVID-19

Infeksi virus Corona diketahui bisa menyebabkan penggumpalan darah atau koagulopati yang dipicu oleh reaksi imunitas.

Koagulopati bisa menyebabkan penggumpalan darah di trombosis di vena atau pembuluh darah balik yang mengalir ke jantung. Kondisi d-dimer yang tinggi juga bisa menyumbat pembuluh darah dari jantung ke paru-paru yang berisiko kematian.

“Parameter untuk memeriksa apakah ada gumpalan darah, inilah D-dimer itu,” kata dokter jantung dari RS Siloam dr Vito A Damay, SpJP(K)

2. Siapa saja yang berisiko?

Dikutip dari laman hematology.org, pasien COVID-19 dengan infeksi atau gejala serius lebih cenderung berisiko mengalami pembekuan darah daripada pasien dengan infeksi ringan.

Peningkatan D-dimer dari waktu ke waktu dikaitkan dengan mortalitas yang tinggi, yang bisa menyebabkan badai sitokin, dan kegagalan organ.

Kondisi peningkatan D-dimer tak selalu dialami pasien COVID-19. Mereka yang tidak bergejala atau hanya bergejala ringan biasanya tidak mengalami peningkatan D-dimer

3. Bagaimana cara mengatasi D-dimer tinggi?

Di masyarakat berkembang kabar bahwa D-dimer bisa diturunkan dengan konsumsi air putih. Menanggapi, dr Vito mengatakan pengenceran darah tak bisa dilakukan sembarangan, melainkan memerlukan obat antikoagulan atau pencegah penggumpalan.

“Nggak sembarangan pengencer darah, namanya antikoagulan. Antikoagulan yang disuntikan. Biasanya orang bilang suntikan ya, karena disuntiknya di kulit,” terangnya.

“Inilah yang ditugaskan untuk melarutkan kekentalan darah yang berbahaya akibat peradangan SARS-CoV-2 atau pasien COVID-19. Apa yang diberikan itu dasarnya ilmiah,” sambungnya.

Meski mengkonsumsi air putih termasuk anjuran yang baik, tapi dipastikan tidak serta-merta bisa mengatasi kondisi tersebut.

Terima kasih telah membaca artikel

Fakta-fakta D-dimer yang Disinggung Saat Ashanty Kritis Akibat COVID-19