Bio Farma Buka-bukaan Soal Tantangan Produksi Vaksin

Bandung

Produksi vaksin akhir-akhir ini tengah digencarkan pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19. Tak tanggung-tanggung saat ini ada dua vaksin utama buatan negeri yaitu vaksin nusantara dan vaksin merah putih.

Dari sisi produksi vaksin, Direktur Operasi Bio Farma Rahman Roestan mengungkapkan hambatan industri obat-obatan di dalam negeri. Kesulitan tersebut, kata dia, adalah kurangnya bahan baku dalam negeri, tingginya permintaan, dan adanya pembatasan sosial yang berpengaruh pada proses distribusi.

Dia melanjutkan, untuk mengatasi masalah tersebut, Bio Farma melakukan kerjasama dengan industri obat-obatan negara lain serta mengadakan konsorsium dengan perguruan tinggi dalam negeri.

“Ada tiga poin penting dalam pengembangan vaksin yaitu transfer teknologi, kerjasama penelitian dan pengembangan, serta inovasi. Berkaitan dengan hal ini, Bio Farma telah berupaya mengadakan produksi vaksin untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bekerjasama dengan Balitbangkes dan Unpad. Selain itu, Bio Farma pun mendukung Vaksin Merah Putih yang kini tengah dikerahkan,” ucap Rahman dalam Konferensi Internasional Mengatasi Pandemi COVID-19 yang digagas IKA Unpad secara virtual, Selasa (23/2/2021).

Sementara itu, masih dengan pembahasan kolaborasi vaksin Sinovac dengan pemerintah, Direktur Senior Sinovac Weining Meng menyampaikan bahwa posisi Indonesia sangat penting dalam mengendalikan pandemi bersama China dan Turki yang memiliki porsi jumlah penduduk 24% dari total jumlah penduduk dunia. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan kolaborasi antara Sinovac dengan Indonesia oleh Bio Farma.

Weining Meng menjelaskan bahwa Sinovac telah diakui dunia dengan 22 negara telah membeli dan menggunakan vaksin ini. “Ada 17 negara yang telah meregistrasi, dan 26 negara sedang meregistrasi. Sinovac menargetkan akan melindungi 3.25 miliar jiwa di seluruh dunia,” ujar Weining.

Dia menambahkan bahwa Sinovac diproduksi di empat pabrik di China yaitu tiga pabrik di Beijing dan satu pabrik di Dalian. Keempat pabrik tersebut dapat memproduksi 400 juta dosis per tahun untuk 10 jenis vaksin. Khusus untuk COVID-19, ia menyatakan bahwa pabriknya dapat memproduksi 300 juta dosis per tahun.

“Uji klinis fase I dan II telah berhasil memenuhi target dan memenuhi persyaratan untuk dilanjutkan ke fase III. Dalam hal ini, Sinovac bekerjasama dengan 4 negara yaitu Indonesia, Turki, Chili, dan Brazil,” pungkasnya.

Terima kasih telah membaca artikel

Bio Farma Buka-bukaan Soal Tantangan Produksi Vaksin