Beneran Pusing atau Efek Gempa? Ini Bedanya Menurut Dokter

Jakarta

Gempa dengan kekuatan M 6,7 di Banten terasa hingga DKI Jakarta. Khususnya di gedung-gedung tinggi, guncangan besar membuat beberapa orang bergegas ke luar gedung.

Banyak dari mereka yang mengeluhkan pusing usai gempa terjadi. Namun, bisa jadi pusing yang dikeluhkan bukan efek gempa melainkan memang pusing beneran. Misalnya, karena kurang tidur.

Bagaimana membedakannya?

Pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja menyebut tidak ada banyak perbedaan signifikan di antara pusing karena kurang tidur atau karena gempa. Namun, bisa dilihat dari durasinya.

“Sama-sama pusing, dizziness. Satu disebabkan gempa, biasanya hanya sesaat, kalau kurang tidurnya parah bisa agak lama. Itu saja,” tuturnya kepada detikcom Jumat (14/1/2022).

Bila menyadari pusing yang terjadi akibat kurang tidur, dr Andreas menyarankan untuk segera meluangkan waktu beristirahat, cukup beberapa menit. Tetapi, saran ini tak bisa menjadi solusi bagi mereka yang sangat kurang waktu tidur.

“20 menit cukup. Tapi kalau kurang tidurnya parah, mungkin perlu semalaman,” sambung dia.

Salah satu tanda yang mencirikan pusing terjadi akibat kurang tidur ialah merasakan keluhan tersebut sepanjang hari.

“Bisa keleyengan seharian, semenjak pagi,” jelas dr Andreas.


Terima kasih telah membaca artikel

Beneran Pusing atau Efek Gempa? Ini Bedanya Menurut Dokter