Terancam Diblokir AS, TikTok Malah Perluas Bisnis E-commerce ke Meksiko dan Pasar Utama Eropa Barat

– TikTok siap memperluas operasi e-commerce-nya ke Meksiko, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol, meksi platform video pendek milik ByteDance itu masih dalam pengawasan di Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Platform media sosial terkenal global ini telah mulai mengundang pedagang untuk menjalankan TikTok Shop versi beta di pasar-pasar tersebut sebelum fitur dalam aplikasi tersebut diperkirakan akan diluncurkan secara resmi pada musim panas tahun ini.
Namun, TikTok Shop telah memperketat criteria untuk pedagang. Mereka yang memenuhi syarat untuk berbisins di Meksiko, misalnya, harus memiliki entitas yang terdaftar secara lokal dan pada awalnya dilarang menjual jenis barang tertentu, seperti makanan dan perhiasan.
Perkembangan ini akan memperluas kehadiran TikTok Shop secara signifikan, sebuah fitur dalam aplikasi yang memungkinkan pengguna membeli barang langsung dari platform, ke total 13 pasar di seluruh dunia.
Hal ini juga akan menandai percepatan laju ekspansi TikTok Shop. Padahal perusahaan sebelumnya telah membatalkan rencana pada 2022 untuk membuka pasar online di Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol setelah operasinya di Inggris gagal memenuhi target internal dan menarik influencer.
Baca Juga: Alasan Mengapa ByteDance Lebih Pilih Suntik Mati TikTok daripada Dijual ke Investor Amerika
ByteDance awalnya meluncurkan TikTok Shop di Inggris dan Indonesia pada 2021, diikuti oleh lima negara lainnya di Asia Tenggara pada 2022. Sedangkan fitur pasar online TikTok diperkenalkan di AS pada September 2023.
Bisnis TikTok Shop di AS tampaknya mendapatkan daya tarik yang kuat. TikTok melaporkan bahwa lebih dari 500.000 pedagang menjual aplikasinya kepada pengguna AS pada akhir 2023. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Di seluruh dunia, TikTok memiliki lebih dari 15 juta penjual pada Desember setelah bertambah lebih dari 6 juta pada paruh kedua 2023, kata perusahaan itu dalam Laporan Keamanan Toko TikTok yang pertama minggu lalu.
TikTok telah menetapkan target nilai barang dagangan kotor sebesar US$50 miliar di seluruh dunia tahun ini, menurut laporan terbaru oleh media Tiongkok 36Kr.
Sementara itu, TikTok dan induknya, ByteDance, pada Selasa (7/5/2024) mengajukan gugatan federal untuk memblokir undang-undang AS yang akan memaksa divestasi operasi platform video pendek populer di negara tersebut atau melarangnya dari semua toko aplikasi di seluruh negeri.
Gugatan mereka menyatakan bahwa divestasi seperti itu “tidak mungkin dilakukan: tidak secara komersial, tidak secara teknologi, tidak secara hukum”.
Presiden AS Joe Biden pada 24 April menandatangani undang-undang yang berisi undang-undang yang akan melarang TikTok di Amerika kecuali ByteDance mendivestasikan bisnis platform video pendek tersebut di AS.
Biden telah menetapkan batas waktu 19 Januari – satu hari sebelum masa jabatannya berakhir – tetapi dia dapat memberikan perpanjangan tiga bulan jika menurutnya ByteDance mengalami kemajuan.
Kementerian Perdagangan China telah berulang kali mengatakan bahwa mereka akan menentang penjualan paksa TikTok, aplikasi China pertama yang meraih kesuksesan besar di luar negeri.
Pada 2020, Beijing memperbarui peraturannya yang mengatur ekspor dengan memasukkan teknologi yang mencakup algoritma rekomendasi yang digunakan oleh TikTok.
Pada April lau, Uni Eropa memulai penyelidikan terhadap aplikasi Lite, yang merupakan spin-off TikTok, beberapa bulan setelah mereka mengumumkan penyelidikan apakah platform milik China tersebut melanggar aturan konten online yang bertujuan melindungi anak-anak dan memastikan iklan yang transparan.
Dua hari setelah penyelidikan pada platform Lite diluncurkan, TikTok menangguhkan skema hadiah aplikasi tersebut.
Baca Juga: Menebak Nasib TikTok Jika AS Akhirnya Melarang Beroperasi