Saat Umar bin Khattab Ditanya, Apakah Akan Angkat Keluarga Jadi Khalifah

Jakarta

Kesedihan menyelimuti rumah Umar bin Khattab di Madinah pada Ahad, 27 Dzulhijjah tahun ke 23 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 644 Masehi. Luka akibat enam tusukan belati Abu Luklukah di tubuh sang Khalifah kian parah. Bahkan seorang tabib yang dihadirkan mengaku tak bisa berbuat apa-apa.

Di saat itulah kemudian Umar meminta segelas susu untuk menghilangkan rasa hausnya. Namun setelah diminum, air susu itu justru keluar lagi dari bekas luka-luka Umar. Keluarga dan para sahabat pun sedih karena merasa Umar tak bisa diselamatkan lagi.

Keluarga dan sahabat yang hadir di rumah Umar bin Khattab hampir semuanya menangis. Sang Amirul Mukminin justru marah mendengar ada yang menangisi kondisinya. Dia pun marah dan meminta yang menangis untuk meninggalkan rumahnya.

“Tidakkah kalian pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘orang meninggal disiksa disebabkan tangisan keluarganya'” kata Umar seperti dikutip Tim Hikmah detikcom dari buku, ‘The Khalifah: Abu Bakar- Umar-Utsman- Ali’, karya Abdul Latip Thalib.

Kepada keluarga dan sahabat, Umar mengatakan bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati. Pria yang oleh Rasulullah SAW dijuluki Al Faruq ini pun merasa ajalnya sudah dekat. Dia pun meminta agar dimakamkan di dekat makam Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq yang berada di rumah Aisyah ra.

Maka diutuslah putranya, Abdullah bin Umar untuk menemui Aisyah istri Rasulullah SAW. Kepada Aisyah, Abdullah pun menyampaikan pesan sang ayah yang meminta izin agar dimakamkan di dekat makam Rasulullah.

“Sebelum ini aku juga ingin dikuburkan bersebelahan dengan Rasulullah. Namun hari ini, aku dengan rela menyerahkan kepada Umar,” jawab Aisyah kepada Abdullah yang langsung menyampaikannya kepada Umar.

Ada dua pesan Umar sebelum wafat. Pertama, dia meminta kepada Abdullah bin Umar untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Kepada sang putra, Umar mengatakan bahwa dia punya utang kepada Baitul Mal sebanyak 8.000 dirham. “Jual semua harta ayahmu untuk membayar utang itu. Sekiranya belum cukup, mintalah pada Bani Adi. Sekiranya masih belum cukup, mintalah dari kaum Quraisy. Jangan minta kepada selain mereka,” pinta Umar.

Ibnu Abas, salah satu sahabat kemudian bertanya kepada Umar tentang siapa yang menggantikan posisinya sebagai khalifah. “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang memimpin umat ini setelah kepergianmu,” tanya dia.

Mendapat pertanyaan ini, Umar serba salah. Dia ingin meniru Rasulullah SAW yang tidak meninggalkan wasiat terkait siapa yang akan menggantikannya memimpin umat. Namun Ibnu Abbas meyakinkan bahwa Umar perlu menunjuk siapa penggantinya seperti Abu Bakar Ash Shiddiq sebelum wafat.

Selain Ibnu Abbas, sejumlah sahabat dan Abdullah bin Umar pun meyakinkan ayahnya agar menunjuk seorang penggantinya sebagai khalifah. “Wahai Umar bin Khattab, apakah engkau ingin mengangkat Abdullah putramu sebagai pengganti,” tanya salah seorang sahabat bernama Mughirah.

Umar meminta Mughirah dan para sahabat agar tidak berburuk sangka. Dia menegaskan bahwa tidak akan mengangkat anggota keluarganya sebagai khalifah. “Aku tidak akan mengangkat anggota keluargaku sebagai khalifah. Aku haramkan mereka memegang jabatan itu,” kata pria yang dijuluki Singa Allah di Padang Pasir itu.

Maka Umar menyampaikan pesan keduanya, yakni menyebut enam nama sebagai calon khalifah penggantinya. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidullah, Zubair bin Awwam, Abdul Rahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Dia juga menunjuk 10 orang sebagai Majelis Syura yang dipimpin Abdullah bin Umar untuk memilih khalifah baru. Setelah Umar bin Khattab wafat pada 27 Dzulhijjah tahun ke 23 Hijriyah, Usman bin Affan terpilih sebagai khalifah ketiga.

(erd/erd)

Terima kasih telah membaca artikel

Saat Umar bin Khattab Ditanya, Apakah Akan Angkat Keluarga Jadi Khalifah