Rintihan Para ‘Korban Ghosting’ HRD

Meski begitu Fe agak heran, mengapa di zaman yang serba digital ini ia masih disuruh datang oleh staf HRD di sana hanya untuk menyerahkan berkas dokumen. Namun, ia mengurungkan niat untuk protes kepada orang yang memiliki kuasa penuh untuk menentukan nasibnya itu. Di pertemuan keenam, Fe dan para kandidat lain diundang untuk mendengarkan pengumuman hasil rekrutmen, yang mana sebetulnya bisa dilakukan via email atau aplikasi online meeting misalnya.

“Kasian sih, ada yang dari Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi juga ada. Orang Surabaya malah sedikit. Bahkan salah satu temenku ada yang dari desa terpencil, Desa Sutco Pangepo dekat gunung tinggalnya,” tuturnya. Temannya yang tinggal dekat Gunung Argopuro ini sampai rela meminjam uang agar bisa mengikuti seleksi kerja. Sayangnya harapan mereka hancur seketika ketika hasil pengumuman menyatakan sebagian besar dari mereka tidak diterima.

“Kita dipanggil lagi hanya untuk dengar pengumuman kalau dari mereka ditolak. Aku udah keburu gedek banget sih. Birokrasinya terlalu ribet. Kayak dibikin lo, tuh, harus berjuang dulu baru bisa diterima di sini,” kata perempuan yang pernah bekerja sebagai penyiar radio lokal ini.

Proses seleksi kerja yang pernah ia lalui itu justru sangat berbeda dengan rekrutmen yang dilakukan di tempat ia bekerja sekarang. Sudah dua tahun Fe bekerja di Medel HearLife Indonesia cabang Surabaya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pusat kesehatan pendengaran. Kurang lebih satu minggu, Fe berhasil lolos dan diterima bekerja di sana.

“Mungkin karena bosku orang Kanada, Alhamdulillah sama sekali nggak ribet. Aku sempat video call juga sama bosku yang di Kanada. Habis nego gaji besoknya langsung disuruh kerja,” tuturnya. “Dan mereka tahu aku dari Jember. Mereka bikin proses rekrutmennya seefisien mungkin, jadi kerjanya nggak mempersulit kita.”

Ada pula hari di mana para kandidat pencari kerja ini menunggu jawaban tak pasti dari para recruiter. Hari demi hari berganti, namun mereka tak kunjung mendapatkan jawaban pasti. Menjadi lantas menjadi ‘korban ghosting‘. Padahal dampaknya bisa menimbulkan bahaya bagi kondisi kejiwaan korban. Perasaan marah, depresi, bingung hingga merasa tidak diinginkan bisa dialami.

Terima kasih telah membaca artikel

Rintihan Para ‘Korban Ghosting’ HRD