Pencegahan HIV-AIDS di Tempat Kerja Jadi PR Besar Negara di ASEAN

Jakarta

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama negara-negara anggota ASEAN mendukung kebijakan pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di tempat kerja.

Dirjen Binwasnaker dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kemnaker, Haiyani Rumondang menilai HIV-AIDS saat ini masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama di dalam sektor ketenagakerjaan. Untuk itu, dia mendorong adanya upaya perlindungan dan pencegahan dalam hal K3 yang komprehensif.

“Pekerja/buruh berperan besar dalam kegiatan produksi di tempat kerja. Namun juga merupakan komunitas yang juga rentan akan tertular HIV. Karenanya, workshop kedua tentang pencegahan dan menghapus HIV AIDS di tempat kerja menjadi perhatian mengingat persoalan HIV AIDS masih menjadi tantangan berat di negara-negara anggota ASEAN,” kata Haiyani dalam keterangan tertulis, Kamis (25/11/2021).

Di 2nd Workshop on the Development of Guideline on HIV-AIDS Counselling and Testing at Workplace, kemarin (24/11), dia menyebut sektor ketenagakerjaan punya peran strategis untuk mendukung keberhasilan program pengendalian HIV-AIDS di kawasan ASEAN. Dia berharap melalui workshop kedua ini dapat melahirkan pedoman konsultasi dan pengecekan tentang HIV AIDS di tempat kerja yang dapat digunakan oleh seluruh negara anggota ASEAN.

Salah satunya melalui perluasan layanan akses konseling dan tes HIV bagi pekerja dengan pelaksanaan konseling dan testing HIV-AIDS di tempat kerja atau VCT (Voluntary Counseling and Testing at workplace). Serta penyusunan buku panduan di tingkat nasional maupun regional.

“VCT ini merupakan upaya program komprehensif pencegahan dan penanggulangan HIV di tempat kerja yang sangat penting dalam mendukung kebijakan pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di tempat kerja,” ujarnya.

Selain menerbitkan pedoman konsultasi dan pengecekan, menurutnya workshop tersebut juga menjadi wadah untuk bertukar informasi dan pengalaman antar negara anggota ASEAN. Sekaligus membahas lanjutan terhadap draft Guideline on HIV-AIDS Counselling and Testing at Workplace yang telah mendapatkan masukan dari negara Anggota ASEAN pada workshop pertama pada bulan Juni 2021.

“Termasuk perlindungan terhadap kesehatan pekerja agar dapat menjaga dan meningkatkan produktivitas khususnya di usia produktif karena banyak yang terserang HIV-AIDS di usia produktif,” terangnya.

Diungkapkan Haiyani, workshop kedua ini merupakan rangkaian ASEAN OSHNET work plan 2021-2025 di bawah Ditjen Binwasnaker dan K3 dalam rangka mendukung Keketuaan Menteri Ketenagakerjaan RI selaku ALMM Chair 2020 hingga 2022. Workshop tersebut dihadiri oleh 10 negara ASEAN, yakni Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Philippina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia

“Kami berharap dengan melaksanakan kegiatan workshop ini, para Anggota ASEAN dapat saling berbagi wawasan dan pengalaman khususnya dalam penyempurnaan panduan ASEAN ini dalam rangka peningkatan kapasitas penerapan program pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di tempat kerja, serta pelaksanaan VCT at Workplace dengan kekhususan karakteristik dari masing-masing Asean Member State (AMS),” tandasnya.

(akn/ega)

Terima kasih telah membaca artikel

Pencegahan HIV-AIDS di Tempat Kerja Jadi PR Besar Negara di ASEAN