FPI Tak Terdaftar di Kemendagri, Komisi II: SKT untuk Fasilitasi dan Kontrol

Jakarta

Front Pembela Islam (FPI) hingga kini tidak memiliki surat keterangan terdaftar (SKT) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pimpinan Komisi II menyebut SKT tersebut adalah cara agar negara memfasilitasi dan mengkontrol organisasi masyarakart.

“Prinsip dari SKT sebuah ormas memang lebih untuk fasilitasi dan kontrol negara. Ormas itu kan sebuah hak berserikat berkumpul, dijamin konstitusi. Namanya hak bisa dilaksanakan bisa tidak. Ketika dilaksanakan maka punya pilihan. Pilihannya terdaftar atau tidak,” kata Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi PPP, Arwani Thomafi saat dikonfirmasi, Sabtu (21/11/2020).

Arwani mengatakan ormas yang ingin memiliki SKT maka harus mendaftarkan diri. Jika tidak ingin, maka negara tidak bisa memaksakan. “Negara tidak bisa memaksakan suatu ormas itu harus terdaftar atau tidak,” ucapnya.

Meski demikian, Arwani menyebut negara harus berterima kasih jika ada ormas yang mau mendaftarkan diri. Artinya ormas tersebut ingin berkontribusi dan taat terhadap aturan negara.

“Justru negara mestinya berterima kasih kalau ada ormas ingin mendaftar. Itu artinya Ormas ingin berKonstribusi dan taat terhadap aturan negara,” ujarnya.

Tak hanya itu, Arwani menyebut FPI tetap bisa berkegiatan sebagai ormas meski tidak terdaftar. Namun resikonya FPI tidak masuk catatan administrasi negara.

“FPI walaupun belum terdaftar di kemendagri tetep sebagai ormas. Ormas yang tidak terdaftar. Ormas yang tidak masuk catatan administrasi negara. Itu aja. Tidak lebih, ormas yang tidak terdaftar tetap bisa melakukan kegiatan sepanjang tidak melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dalam Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan,” sebut Arwani.

Terima kasih telah membaca artikel

FPI Tak Terdaftar di Kemendagri, Komisi II: SKT untuk Fasilitasi dan Kontrol