Polda Metro Jaya Melarang Penggunaan GPS di Handphone

Informasi Menarik – Beredar kabar bahwa Dirlantas Polda Metro akan melarang penggunaan GPS di HP ketika berkendara. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Halim Pagarra menyampaikan jika penggunaan perangkat GPS (global positioning system) tak dilarang. Yang tidak diperkenankan itu adalah menggunakan aplikasi GPS di handphone pada waktu berkendara dengan satu tangan.

Halim menegaskan kalau perangkat GPS pada mobil, yang sudah di install pada kendaraan dan bisa membantu melacak keberadaan mobil itu diperbolehkan untuk digunakan. Adapun yang dilarang yaitu penggunaan aplikasi GPS di hape pengemudi, kendaraan (mau yang roda dua maupun empat) saat kendaraan berjalan.

Untuk mobil, terdapat fitur perangkat GPS yang sudah terpasang di mobil tersebut. Disisi lain untuk kendaraan roda dua, selama ini pengendara motor atau pengendara ojek online, memasangkan handphone ke badan motor untuk mengetahui arah jalan. Hal ini yang menurut Pak Halim tak diperkenankan.

Lihat juga: Jokowi Perintahkan Polri Sikat Berita Hoax



“Kalau (perangkat) GPS di mobil itu tidak masalah, karena itu kan melekat pada mobilnya. Tapi yang di motor itu aplikasi (google maps dsb) itu yang tak boleh,” kata Halim ketika dihubungi, Senin, 5 Maret 2018.

Halim mengatakan, penggunaan aplikasi ojek dan taksi online saat berkendara dapat mengurangi konsentrasi. Hal ini bertentangan dengan Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ berbunyi: “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”

“Adapun, yang dimaksud penuh konsentrasi adalah di antaranya tidak menggunakan handphone saat berkendara, tidak menonton televisi atau video yang terpasang pada kendaraan, atau tidak meminum minuman keras yang dapat mengurangi konsentrasi dalam berkendara,” papar Halim.

Pak Halim bilang, larangan penggunaan aplikasi ini tidak hanya untuk ojek online namun juga berlaku untuk sopir taksi online. Pengendara kendaraan pribadi yang tertangkap tangan mengoperasikan telepon genggam dengan cara seperti itu pun juga akan ditilang.

“Apapun itu, tidak hanya aplikasi, kalau dia menggunakan handphone saat berkendara itu tidak boleh,” tutur Halim.

Kenapa penggunaan aplikasi seperti GPS di handhphone ketika berkendara itu dilarang?. Jawabannya adalah karena itu akan menyebabkan fokus si pengendara akan terbagi dan bisa membahayakan dirinya maupun orang lain dijalan.

Akan tetapi, argumennya, driver ojek ataupun taksi online mengoperasikan aplikasi tersebut saat berkendara adalah untuk mengetahui rute perjalanan tujuan penumpang. Gimana apabila driver ojek atau taksi online itu tak tau jalan mana yang harus ditempuh?, ya kan?.

“Makanya sebelum berangkat tanyakan dulu tujuannya ke mana, kalau sudah tahu baru jalan. Nanti kalau di tengah perjalanan tidak tahu harus ke arah mana, berhenti dulu baru cek aplikasinya. Kalau taksi online bisa sambil tanyakan ke penumpangnya,” paparnya.

Kakorlantas: Undang-undang tidak ada yang khusus melarang penggunaan GPS ketika berkendara. Akan tetapi pernyataan berbeda justru disampaikan oleh Kakorlantas Irjen Rockye Lumowa. Menurut Roycke undang-undang tidak ada menyebutkan secara khusus mengenai larangan penggunaan GPS tersebut.

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagara mengatakan bilamana pengendara yang mengakses GPS melalui handphone akan ditilang. Akan tetapi, Kakorlantas Irjen Irjen Pol Royke Lumowa justru mengatakan hal yang bertolak belakang.

Irjen Roycke mengatakan bahwa melakukan kegiatan sewaktu berkendara memang harus dibatasi. Hal tersebut tercantum dalam Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 2009 pasal 106, seperti menonton TV, Video, main handphone, Lelah, ngantuk, hingga mabuk. Namun sewaktu ditanya mengenai pengaksesan GPS saat berkendara, Rocyke memperbolehkannya.

“Boleh-boleh saja (melakukan kegiatan seperti mendengarkan radio atau GPS saat mengemudi), tapi jangan sampai melanggar aturan UU 106 seperti nonton TV, video, terlalu lelah sehingga mengantuk, mabuk, ataupun memainkan handphone,” ujarnya kepada wartawan di Bekasi, Jawa Barat, Senin (5/3/2018).

“Ya memang UU yang sekarang tidak melarang secara spesifik untuk lihat GPS. Namun main HP itu tidak diperbolehkan. Kita juga menyarankan yang bahaya-bahaya jangan dilakukan lah. Jangan bermain sirkus. Kan kalau berkendara seperti itu dia lepas tangan satu, itu tidak boleh,” lanjut Royke.

Pada kesempatan yang sama, Rocyke juga mengimbau supaya pengendara selalu mengutamakan etika ketika berkendara dan berkonsentrasi penuh. Karena, di jalanan bukan hanya ada Anda saja. Banyak orang lain juga yang mesti Anda perhitungkan untuk tidak mengganggu atau membahayakannya.

“Yah jaga etika ketika berkendara lah, jangan membahayakan diri dan orang lain,” jelas Royke.

Pihak Polri pun mengklarifikasi soal GPS: yang dilarang itu berkendara dengan 1 tangan, karena ini membayahakan.Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra menyatakan pengendara yang mengemudi sambil mengakses aplikasi GPS akan ditilang. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto meluruskan pernyataan itu. Yang ditindak adalah pengemudi yang aktif mengakses GPS sehingga hanya mengemudi dengan satu tangan.

“Bukan begitu maksudnya. Yang dilarang adalah saat mengemudi, dia membuka itu (aplikasi GPS, red),” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto sewaktu dikonfirmasi oleh detik.com.

Setyo mengatakan hal yang dilarang adalah pengendara membuka aplikasi GPS di ponsel, lalu akhirnya mengemudi dengan satu tangan. Setyo mengatakan di Malaysia, perilaku berkendara seperti itu sudah ditindak tegas.

“Jadi kalau dia sambil mengemudi, buka GPS, keliling sambil motor dipegang tangan satu, kan tidak boleh. Di Malaysia sudah ditangkapin itu,” jelas Setyo.

Setyo menerangkan lebih lanjut, polisi menilai penggunaan GPS berbahaya saat berkendara jika pengendara tiba-tiba berhenti di tanpa menepi di jalan. Hal itu, ditambahkan Setyo, terjadi pada pengemudi angkutan online baik ojek maupun taksi.

Polda Metro Jaya Melarang Penggunaan GPS di Handphone

“Sebenarnya kalau GPS-nya ada dimobil dan digunakan untuk mengetahui posisi dia, nggak ada masalah. Yang diarahinkan sebenarnya banyak pengemudi angkutan online yang saat mendapat order, sambil naik motor atau naik mobil, dibuka orderannya tanpa menepi,” ungkap Setyo.

Setyo tak menafikan manfaat aplikasi GPS membantu pengendara dalam menemukan rute perjalanan. Namun menurut Setyo, pengendara tetap perlu memperhatikan tata cara penggunaan aplikasi GPS di ponsel agar tidak membahayakan keselamatan berlalu lintas.

“Ya berhenti dulu, minggir, jangan tiba-tiba berhenti di tengah jalan atau sambil berkendara membuka aplikasi. Jadi dengan adanya teknologi jangan malah kita kembali tanpa aturan,” tegas dia.

Setyo kemudian menuturkan pernyataan Polda Metro yang melarang penggunaan GPS saat berkendara belum akan diterapkan di seluruh Indonesia karena Polri sendiri belum melakukan kajian terkait peraturan yang melarang penggunaan GPS itu.

“Nggak, nggak akan diterapkan di seluruh Indonesia. Itu sudah di klarifikasi kakorlantas, nggak ada itu,” tandas Setyo.

“Yang ditilang itu yang menggunakan HP, buka GPS saat berkendara sehingga satu tangannya di HP, satu dikemudi atau setir. Itu jelas nggak boleh. Bahkan di Singapura dan Malaysia, itu telepon saja nggak boleh karena di sana yang mengemudi itu harus pakai handsfree. Jadi HP itu tidak dipegangin, jadi dia tetap nyetir dua tangan saja,” sambung Setyo.

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: