Peneliti Sebut Konsumsi Rutin Tolak Angin Aman hingga 8,4 Tahun

Jakarta

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan salah satu produk perusahaannya, Tolak Angin aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Ia bahkan mengaku selama pandemi COVID-19 selalu mengonsumsi Tolak Angin dua sachet setiap hari.

“Selama pandemi ini mulai dari bulan Maret, tiap hari minum dua kali sehari. Sampai hari ini it’s oke. Minum terus setiap hari sesuai dosis. Ini tiga kali satu kalau orang sakit, kalau 3-4 kali, kalau dosis untuk penjagaan bisa dua kali satu. Saya sudah 5 bulan minum, saya biasanya minum saat nggak enak badan, tapi karena COVID-19 ini (saya minum setiap hari),” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Ia bisa menegaskan hal tersebut karena Tolak Angin sudah menjalani uji toksisitas atau tingkat keamanan dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada 2003 silam. Ketua Peneliti Uji Praklinik Toksisitas Subkronis Tolak Angin Cair Ipang Djunarko pun menjelaskan penelitian yang telah dilakukannya 17 tahun lalu.

“Jadi hewan uji itu (tikus) saya kasih Tolak Angin 1/3 sachet, 1 sachet, 3 sachet, dan 9 sachet masing-masing selama 3 bulan berturut-turut. Baru setelah itu diamati kematiannya ada nggak? Ternyata pada dosis terapi itu tidak menimbulkan efek toksik yang berarti atau bisa dibilang aman. Nah, 3 bulan itu kalau kita praktikan ke manusia setara 8 tahun 4 bulan,” ungkapnya.

Ia menegaskan Tolak Angin aman untuk dikonsumsi manusia selama 8,4 tahun dengan dosis normal atau dua kali sehari. Selain itu, ia juga menyebutkan Tolak Angin memiliki sifat repronsible yang artinya kondisi akan kembali normal saat konsumsi obat dihentikan.

“Ibaratnya kalau minum setiap hari selama 8,4 tahun terus dihentikan selama 2 minggu itu bisa repronsible atau kembali normal. Jadi dosis 2 x 1 itu dijamin tidak menimbulkan kerusakan bahkan tidak menimbulkan efek klinis yang mempengaruhinya,” tukasnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Ipang, penelitian lain terkait uji khasiat pun dilakukan sebagai bentuk pengembangan dari data-data penelitian pertama. Ketua Lembaga Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang Edi Dharmana pun menjelaskan penelitiannya terkait pengaruh Tolak angin dalam limfosit, khususnya limfosit T atau sel T dan beberapa alat peredaran lain.

Dalam penelitiannya didapatkan kesimpulan bahwa Tolak Angin Cair dapat meningkatkan jumlah limfosit T dan produksi sitokin dalam penggunaan selama 7 hari ke manusia. Selain itu, Tolak Angin Cair juga tidak mempengaruhi fungsi hati dan ginjal.

“Limfosit T itu kan banyak fungsinya antara lain, untuk imunitas seluler, istilahnya jadi nanti hidrotoksik untuk virus. Sehingga limfosit itu banyak sekali macamnya. Waktu itu yang kita periksa adalah limfosit T. Kemudian limfosit T mana yang terakrifiasi. Sehingga kesimpulannya meningkatkan limfosit tadi lebih ke imunitas selulernya yang nantinya berperan protektif terhadap virus, secara umum loh, ya,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Research and Development Sido Muncul Wahyu Widayani mengatakan Tolak Angin sudah masuk ke dalam jenis Obat Herbal Standar (OHT). Produk Tolak Angin sudah melewati standardisasi bahan baku dan uji klinis sehingga sudah terbukti aman untuk dikonsumsi.

Untuk menjaga kualitas produk Tolak Angin, ia mengatakan ada spesifikasi khusus terhadap pembuatan produk di setiap prosesnya. Lantaran sudah tersertifikasi, ia juga harus memastikan produk tak mengandung bahan berbahaya dan diharamkan.

“Di setiap proses kita juga akan sampel tertinggal itu secara periodik, akan kita periksa apakah masih sesuai dengan standar yang kita tetapkan,” tukasnya.

(akn/ega)

Terima kasih telah membaca artikel

Peneliti Sebut Konsumsi Rutin Tolak Angin Aman hingga 8,4 Tahun