Pakar Bandingkan Dampak Pandemi Vs Perang Dunia II, Mana Lebih Traumatis?

Jakarta

Banyaknya manusia yang menjemput ajal akibat pandemi membawa dampak traumatis bagi dunia. Dampak traumatis yang bersifat masif ini bahkan disebut para ahli lebih besar daripada perang dunia kedua.

Dikutip dari India.com, dampak yang terus berkelanjutan ini akan menimbulkan trauma massal yang bisa berlangsung hingga bertahun-tahun ke depan.

Para ahli menyebut trauma massal ini sebagai PPSD atau Post-Pandemic Stress Disorder, suatu bentuk PTSD yang diinduksi pandemi COVID-19. Namun, PPSD belum menjadi kondisi kesehatan mental yang diakui.

Istilah PPSD ini diciptakan oleh Psikoterapis asal Inggris, Owen O’Kane. Dalam sebuah interaksi, ia mengatakan bahwa gangguan stres pasca pandemi akan meledak.

“Saat ini, ini tidak akan dianggap sebagai masalah yang signifikan karena kami sedang menormalkan keadaan. Namun, seperti semua trauma, dampaknya akan terlihat ketika pandemi berakhir,” katanya.

Eks Kepala Klinis Kesehatan Mental NHS mengatakan bahwa PPSD mirip dalam banyak hal dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). PPSD adalah hipotesis yang memprediksi dalam beberapa bulan setelah kita keluar dari pandemi.

Menurutnya, akan ada beberapa orang yang mengalami reaksi trauma, mirip dengan bagaimana PTSD berkembang di bulan dan tahun setelah peristiwa traumatis.

Oleh karenanya, kondisi kesehatan mental perlu diperhatikan selain menjaga kesehatan jasmani di masa pandemi.

Lalu bagaimana kita mengenali tanda dan gejala traumatis yang patut diwaspadai?

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA


Terima kasih telah membaca artikel

Pakar Bandingkan Dampak Pandemi Vs Perang Dunia II, Mana Lebih Traumatis?