Meski Terbatas di Tengah Pandemi, Ritual Tumpeng Sewu Masih Sakral

Banyuwangi

Warga Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi menggelar tradisi Ritual Tumpeng Sewu. Tradisi ini merupakan syukuran warga asli Banyuwangi (Using) Kemiren dalam melakukan bersih Desa. Di tengah Pandemi COVID-19, kegiatan ini digelar dengan keterbatasan. Namun warga berharap, kegiatan ini bisa mengusir virus Corona, yang hingga saat ini masih menghantui masyarakat.

Ritual tradisi tumpeng Sewu dilaksanakan sesuai protokol kesehatan pencegahan COVID-19, Kamis (23/7/2020). Biasanya, kegiatan ini diikuti ribuan orang dan menyantap Tumpeng Pecel Pitik (pecel ayam) di jalan desa. Namun saat pandemi ini, mereka melakukan ritual selamatan biasa, di depan rumah masing-masing. Mereka pun tak mengundang kerabat ataupun rekan sejawat seperti tahun lalu.

“Semoga Corona hilang dari Indonesia. Dan bisa kita melaksanakan kegiatan ritual seperti tahun lalu,” ujar Ketua Adat saat membacakan doa, sebelum menyantap hidangan.

Warga pun kemudian menyantap hidangan pecel pitik. Hidangan ini muncul pada saat kegiatan ritual. Ayam kampung yang bakar kemudian disuwir dan dicampur bumbu kacang dan kelapa muda. Pecel Pitik dimakan dengan nasi yang dibentuk seperti tumpeng.

Warga menyantap pecel pitik (Foto: Ardian Fanani)

Kepala Desa Kemiren, Mohamad Arifin mengatakan kegiatan ritual tumpeng Sewu digelar secara sederhana. Berbagai tahapan ritual dilakukan. Ada beberapa yang dihilangkan. Salah satunya adalah tidak adanya ritual mepe kasur atau menjemur kasur. Tradisi dimulai setelah sore. Warga menggelar ritual selametan atau tasyakuran di makam buyut cili yang merupakan leluhur atau sesepuh des Kemiren. Acara dilanjutkan dengan ritual barong ider bumi.

“Barong menelusuri jalanan desa dengan diiringi penari dan alat musik tradisional. Selama pandemi COVID 19 ini, ritual barong ider bumi juga tetap dengan anjuran protokol kesehatan, yakni di bagian depan ada petugas penyemprotan disinfektan dan penabuh menggunakan masker,” ujarnya kepada detikcom.

Selepas salat Magrib, warga mulai menyalakan obor yang sudah disiapkan di depan rumah sebagai penanda tradisi Tumpeng Sewu dimulai. Tak lupa juga warga menaruh tumpeng di pinggir jalan depan rumah.

Mohamad Arifin menambahkan, Ritual ini digelar setiap memasuki bulan Dzulhijjah.

“Ritual ini yang dilaksanakan setiap tahun, yakni pada malam Senin atau malam Jumat Minggu pertama di bulan haji, Dzulhijjah,” tambahnya.

Tujuan ritual tumpeng sewu ini, kata Arifin sebenarnya masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Namun lantaran di tengah pandemi ini, kegiatan ini pun dilakukan secara sederhana. Bahkan, pihaknya tidak mengundang tamu ataupun wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara.

“Warga luar desa yang akan datang dan ikut tradisi tumpeng Sewu ini diperbolehkan asal menunjukkan hasil rapid test non reaktif,” jelasnya.

Meski digelar sederhana dan jaga jarak, tradisi tumpeng Sewu yang diikuti warga lokal terlihat antusias. Mereka tampak akrab dengan suasana kekeluargaan menyantap menu pecel pitik bersama-sama.

“Semoga dengan ritual ini, wabah COVID-19 segera berakhir dan aktivitas masyarakat bisa kembali normal bekerja seperti biasa,” tandasnya.

(iwd/iwd)

Terima kasih telah membaca artikel

Meski Terbatas di Tengah Pandemi, Ritual Tumpeng Sewu Masih Sakral