Indonesia Boikot Starbucks yang Tidak Sejalan dengan Ideologi Bangsa

Indonesia Boikot Starbucks yang Tidak Sejalan dengan Ideologi Bangsa

Indonesia boikot Starbucks menjadi salah satu trending topik yang sedang marak dibicarakan. Bagi para penggemar kopi, tentunya nama Starbucks sudah tidak asing lagi. Starbucks merupakan salah satu perusahaan kedai kopi yang sudah tersebar di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia.

STARBUCKS COFFEE

Sejarah Starbucks

Kantor pusat Starbucks terletak di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Perusahaan kedai kopi ini sudah dimulai sejak tahun 1971. Starbucks ini didirikan oleh tiga orang yaitu Gordon Bowker, Jerry Baldwin, dan Zev Siegl. Pada awalnya, perusahaan ini akan diberi nama Pequod. Nama ini diambil dari Moby-Dick yang merupakan sebuah kapal pemburu. Namun, tidak semua setuju dengan nama tersebut dan akhirnya Starbucks pun muncul sebagai nama perusahaan yang disepakati oleh ketiganya. Pada awal-awal tahun berdirinya, perusahaan ini hanya fokus pada penjualan kopi panggang. Seiring berkembangnya perusahaan, Starbucks pun mengawali penjualan minuman kopi dengan mendirikan sebuah kedai. Kopi Starbucks disediakan dalam berabagai ukuran sebagai berikut:

  • Demi (89 mL)
  • Short (240 mL)
  • Tall (350mL)
  • Grande (470 mL)
  • Venti (590 mL/770 mL)
  • Trenta (890 mL)

Logo awal Starbucks berwarna coklat yang berlaku dari tahun 1971 hingga 1987. Kemudian pada tahun 1987 Starbucks mengganti warna logonya menjadi hijau. Pergantian warna dari coklat ke hijau ini didasari dari warna University of San Fransisco sebagai tempat menimba ilmu Gordon Bowker. Starbucks menggunakan logo putri duyung berekor ganda yang dalam mitologi yunani sering disebut sebagai siren. Logo ini pun sedikit berubah seiring bergantinya tahun. Logo terbaru yang mulai diluncurkan pada tahun 2011 menghilangkan tulisan Starbucks dan memperbesar gambar siren.



Kontroversi Starbucks di Indonesia

Howard Mark Schultz selaku CEO Starbucks menyatakan bahwa dirinya mendukung serta mengkampanyekan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Trangender). Hal ini tentunya tidak sepaham dengan ideologi Indonesia. Indonesia sendiri merupakan negara yang menganut ketuhanan dan pancasila serta mayoritas penduduknya tidak sepakat dengan adanya pernikahan sejenis yang sering dilakukan oleh LGBT. Azrul Tanjung sebagai Ketua Komisi Ekonomi Majelis Ulama Indonesia pun menyatakan bahwa pernyataan Howard Mark Schultz bisa berdampak buruk pada kedai-kedai Starbucks yang ada di Indonesia. Beberapa alasan yang mendasari Indonesia boikot Starbucks adalah sebagai berikut:

  • Tidak sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia

Dukungan CEO Starbucks terhadap LGBT tidak sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Dalam Pancasila, sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa beragama dan LGBT itu tidak sejalan dengan ajaran agama sehingga hal tersebut juga berarti tidak sesuai dengan Pancasila.





  • Bisa merusak budaya

Selain tidak sesuai dengan ideologi bangsa, dukungan terhadap LGBT ini juga tidak sejalan dengan budaya bangsa. Bangsa Indonesia memiliki adat-istiadat yang menjadi ciri khas budaya bangsa. Apabila pandangan ini tidak sesuai dengan budaya bangsa, maka budaya baru tersebut bisa merusak jati diri bangsa.

Indonesia boikot Starbucks ini justru bisa mempertegas identitas bangsa. Hal ini ditandai dengan bangsa Indonesia yang berani menolak hal yang tidak sesui dengan budaya bangsa. Indonesia boikot Starbucks ini juga bisa memberikan kesempatan bagi pengusaha kopi lokal untuk mengembangkan usaha kopinya. Adanya aksi boikot bisa menggiring pelanggan Starbucks untuk melirik dan merasakan kopi lokal yang sebenarnya tidak kalah berkualitas. Apabila kopi lokal bisa berkembang pesat, maka hal ini bisa membawa hal yang positif bagi bangsa Indonesia.

Baca Juga : Mengenal Menteri Susi dan Kebijakannya

Komentar Anda
%d blogger menyukai ini: