Fakta-fakta Pria 24 Tahun di RI Punya Mr P Mini, Cuma 3 Cm

Jakarta

Mikropenis merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penis atau Mr P dengan ukuran sangat kecil dari ukuran normal. Mikropenis dapat mempengaruhi kondisi mental pengidapnya lantaran ukuran penis seringkali menjadi indikator kejantanan seorang pria.

Insidensi mikropenis terbilang cukup langka, yaitu 1,5 dari 10.000 bayi laki-laki yang baru lahir. Kasus mikropenis juga terjadi pada salah satu pria asal Indonesia berusia 24 tahun.

Awal Mula

Pria yang tidak disebutkan namanya ini mengeluhkan ukuran penisnya yang sangat kecil sejak bayi. Ia juga merasa janggal dengan tinggi badannya yang lebih pendek dari anak seusianya. Bahkan, tinggi badannya disebut tidak bertambah sejak SMP.


Pria tersebut merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak laki-lakinya tidak memiliki masalah penis maupun masalah pertumbuhan, begitu juga anggota keluarga lainnya.

Ia juga tidak memiliki penyakit komorbid dan kelainan kongenital (bawaan lahir) lainnya.

“Pemeriksaan fisik menunjukkan tinggi badan 153 cm, panjang penis 3 cm, tidak ada rambut kemaluan, skrotum kecil, kedua testis tidak teraba,” tulis penelitian tersebut.

Hasil Pemeriksaan

Tim peneliti melakukan pemeriksaan hormonal yang meliputi testosteron 14,94 ng/dL, hormon luteinizing 14,89 mUI/mL, dan hormon perangsang folikel 67,51 mUI/mL. Selain itu, diperlukan pemeriksaan x-ray otak dan CT scan.

“Pada USG testis, tidak terlihat adanya testis di skrotum hingga kanalis inguinalis bilateral,” tulis tim peneliti.

“Ultrasonografi tidak menunjukkan lokasi testis dan hanya penampakan seperti prostat dengan ukuran 0,6 × 2,07 cm di perut,” sambungnya.

Pria tersebut kemudian melanjutkan stimulasi human chorionic gonadotropin, yakni pemeriksaan preparat hormon yang digunakan untuk mengatasi infertilitas atau ketidaksuburan pada wanita. Hasilnya, didapatkan hormon gonadotropin yang sebanyak 2.000 IU X 3 hari.

Pada hari keempat hasilnya 0,106 ng/dL. Selanjutnya, pasien menjalani laparoskopi, yang mengungkapkan bahwa testis mengalami atrofi di intracanalicularis bilateral tetapi belum dibuka dan dieksplorasi lebih lanjut.

“Pasien kemudian didiagnosis dengan testis tidak turun bilateral dan mikropenis,” ujarnya.

Pasien direncanakan untuk orkidektomi (pengangkatan testis) bilateral dan dilanjutkan dengan terapi hormon testosteron. Namun, pasien belum kembali kontrol karena terkendala pandemi COVID-19.

NEXT: Sekilas Tentang Mikropenis

Terima kasih telah membaca artikel

Fakta-fakta Pria 24 Tahun di RI Punya Mr P Mini, Cuma 3 Cm